Laporkan Masalah

Gambaran pola hidup ibu yang mengalami gangguan stres pasca trauma di daerah konflik Kota Ambon Propinsi Maluku

SAMIUN, Ibiham, Dra. Nida Ul Hasanat, M.Si

2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Perilaku dan Promosi

Latar Belakang: Perbedaan atau kesenjangan sosial dan ekonomi di antara dua komunitas dapat melahirkan konflik, seperti konflik atas dasar etnik dan konflik atas dasar agama. Apabila konflik semacam ini terus berlanjut dalam waktu yang lama maka akan dapat mengakibatkan stres bagi anggota masyarakat yang terkena dampaknya. Gangguan stres pascatrauma (GSPT) merupakan salah satu dampak dari konflik. Peran Trauma Center sangat diperlukan untuk mencegah GSPT menjadi gangguan jiwa yang lebih berat. Setelah terjadi konflik Maluku banyak terjadi perubahan pola hidup pada perempuan. Salah satunya adalah perubahan status menjadi janda yang membuat mereka berubah peran, sebagai pengasuh anak dan juga sebagai pencari nafkah. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pola hidup ibu dan peran Trauma Center terhadap kehidupan ibu yang mengalami GSPT. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Responden dalam penelitian ini adalah 11 orang perempuan janda. Data diperoleh dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil: Mekanisme pertahanan diri pada ibu yang mengalami GSPT dapat berupa menolak, berusaha untuk melupakan dan menerima kemudian menghindar bila bercerita dan mendengarkan cerita tentang kejadian masa lalu. Dalam pengambilan keputusan ada yang memutuskan sendiri, ada yang melibatkan anak-anaknya yang sudah dewasa dan ada yang melibatkan orang tua dan saudara-saudaranya. Trauma Center belum berperan sesuai dengan standar pelayanan, baik terhadap penanganan ibu yang mengalami GSPT maupun pada masyarakat di pengungsian. Kesimpulan: Mekanisme pertahanan diri dan pengambilan keputusan dalam keluarga pada Ibu yang mengalami GSPT bermacam-macam. Trauma Center dapat meningkatkan perannya dalam penanganan penderita GSPT.

Background: Social and economic differences or gaps between two communities can induce conflict based on ethnic or religious issues. If such a conflict persisted for along time it can bring stress to the community members facing it. Posttraumatic stress disorder is one impact of the conflict. The role of Trauma Center is much needed to avoid posttraumatic stress disorder from becoming heavier mental disorder. After the occurrence of Maluku conflict, there are changes of living pattern among women. One of them is becoming a widow it makes them not only as a childbearer but also as a breadwinner. Objectives: To give an overview of living pattern and role of Trauma Center to mothers having posttraumatic stress disorder. Methods: The study was a qualitative type with widows as subject of the study. Data were achieved through indepth interview and observation. Results: There were varieties of self defence of mothers having posttraumatic stress disorder. First, there were some mothers who could not talk about nor listen to the shering of past occurrence they faced. Second, some mothers could talk about and listen to the past occurrence. Third, some others could talk about and listen to the past occurence but then they refrained. There were also varieties in making decision. Some mothers made decision on their own, some were involving their adult children, and same involving parents and relatives. Trauma Center had not played optimum role in handling posttraumatic stress disorder because of lack of promotion in the community. Conclusion: Self defence and decision making pattern in the family of mothers having posttraumatic stress disorder varied. Trauma Center could improve its role in the handling of sufferers of posttraumatic stress disorder.

Kata Kunci : Perilaku Sehat,Pola Hidup,Ibu Stress,GSPT


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.