Laporkan Masalah

Analisis konsekuensi dispersi zat radioaktif ke udara dalam kecelakaan pengangkutan bahan bakar nuklir bekas menggunakan truk :: Studi kasus Rute Yogyakarta-Cilacap dan Yogyakarta Semarang

SUBEKTI, Haendra, Ir. Sunarno, M.Eng.,Ph.D

2005 | Tesis | S2 Teknik Elektro (Magister Rekayasa Keselamatan I

Kondisi kecelakaan terburuk yang mungkin terjadi dalam pengangkutan bahan bakar nuklir bekas adalah terlepasnya hasil fisi ke udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsekuensi dari terdispersinya zat radioaktif dalam kecelakaan pengangkutan bahan bakar bekas. Diperkirakan terlepasnya zat radioaktif akan meningkatkan konsentrasi radionuklida dalam selang waktu yang terbatas. Sebagai model, digunakan sumber titik dekat permukaan tanah dengan pelepasan seketika. Dengan model itu, dapat dihitung konsentrasi radionuklida yang terlepas. Bila konsentrasi radionuklida diketahui, dosis radiasi dari paparan eksternal maupun internal dapat dihitung. Data yang diperlukan adalah jumlah radionuklida yang terlepas, arah dan kecepatan angin, stabilitas atmosfer, dan koefisien dispersi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penyebaran konsentrasi radionuklida pada jarak tertentu dari pusat membentuk kurva yang menyerupai distribusi normal. Konsentrasi maksimum radionuklida pada 1000 m dari sumber pelepasan melebihi konsentrasi tertinggi yang diizinkan untuk udara lingkungan sebesar 3–105 kali. Konsentrasi maksimum radionuklida berkisar antara 6,38 10-4 – 1,74 10-2 mCi/m3. Dosis radiasi berbanding terbalik dengan kecepatan angin. Hasil perhitungan dosis radiasi total antara 0,885–2,700 mSv untuk kecepatan angin 1,9–5,8 knot (0,98–2,98 m/s) pada jarak 1000 m dari sumber pelepasan. Dosis radiasi total tidak melebihi nilai batas dosis untuk masyarakat umum sebesar 5 mSv. Kontribusi terbesar dosis radiasi diberikan Sr-90 sebesar 73,5%. Dosis radiasi internal menyumbang 99,9% terhadap dosis total. Arah sebaran radionuklida di Yogyakarta diperkirakan ke arah Utara–Timur, di Cilacap ke arah Barat–Barat Laut, dan di Semarang ke arah Tenggara–Selatan.

The worst case in spent nuclear fuel transportation accident is the release of fission product to the atmosphere. This research aims to estimate consequences of radioactive material dispersion in spent nuclear fuel transportation accident. It is estimated that the release of radioactive material would increase concentration of radionuclide in limited time range. As a model, it was used a point source model at ground level for instantaneous release. With that model, it can be calculated concentration of radionuclides released. If the concentration of radionuclides were known, radiation doses of external and internal exposures could be calculated. The data need for the dispersion model are the amount of radionuclides released, wind direction and speed, atmosphere stability, and dispersion coefficient. The result of calculation shows that distribution of concentration at given distance from source formed the curve as like normal distribution. Maximum concentration of radionuclides at 1000 m from source of release exceeds the highest concentration permitted for ambient air 3 to 105 times. Maximum concentration of radionuclides are about 6.38 10-4 to 1.74 10-2 mCi/m3. Radiation doses is the inverse of wind speed. The result of calculation of total radiation doses is about 0.885 to 2.700 mSv for wind speed 1.9 to 5.8 knot (0.98 to 2.98 m/s) at distance 1000 m from source of release. The total radiation doses does not exceed doses limit for general public as 5 mSv. The highest contribution to total radiation doses is given by Sr-90 about 73.5%. Internal radiation doses contributed 99.9% to total doses. The direction of radionuclides dispersion in Yogyakarta is to North – East, in Cilacap to West – North West, and in Semarang to South East – South.

Kata Kunci : Zat Radioaktif,Bahan Bakar Nuklir,Kecelakaan Pengangkutan, consequence analysis, radioactive material dispersion, transportation accident, spent nuclear fuel.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.