Laporkan Masalah

Penganggaran berbasis kinerja dan otonomi Puskesmas di Kota Pontianak Kalimantan Barat

WARDANI, Diah Kusuma, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang Kota Pontianak sangat dekat dengan ibukota negara yaitu Jakarta dan negara tetangga Serawak Malaysia Timur dengan sistem pelayanan kesehatan yang canggih dan profesional sehingga akan mempengaruhi pola kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat kota Pontianak yang dinamis. Untuk merespon kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang modern maka pemerintah daerah melakukan reformasi puskesmas dengan membentuk beberapa puskesmas unggulan. Permasalahannya adalah puskesmas unggulan masih tergantung pada pemerintah dengan sistem penganggaran yang dilaksanakan saat ini. Pola pembinaan yang tidak intensif membuat puskesmas unggulan menjadi terbebani dengan tambahan pelayanan unggulan tersebut. Layanan unggulan menjadi tidak efektif dan merugikan puskesmas terutama dari segi anggaran. Tujuan penelitian untuk mempelajari gambaran upaya pengembangan puskesmas unggulan dalam meningkatkan pengelolaan anggaran secara mandiri agar unit-unit pelayanan unggulan bisa dinamis dan tetap berkembang Metode Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus yang mengeksplorasi alasanalasan puskesmas unggulan tidak berjalan. Unit analisis adalah puskesmas dengan melibatkan dinas kesehatan dan pemerintah daerah sebagai lingkungan puskesmas. Data untuk analisis ini diambil dari wawancara, diskusi kelompok terarah, dan dokumen yang ada. Hasil Puskesmas Alianyang telah mampu melakukan pengembangan puskesmas berdasarkan prakarsa sendiri berupa pelayanan spesialis anak dan pelayanan persalinan khusus dalam rangka merespon kebutuhan pelanggan. Di samping itu, puskesmas mampu mengelola kegiatan rutin. Pendapatan dari kegiatan rutin ini justru surplus. Penelitian ini justru mencatat ada ketidakmandirian dari kegiatan unit khusus persalinan yang diharapkan sebaliknya. Neraca anggaran puskesmas belum bisa menghasilkan sumber anggaran out of pocket sebesar 50% dari total pendapatan puskesmas. Pendapatan fungsional puskesmas sudah lebih dari 40% dari total kebutuhan puskesmas. Penelitian ini juga mencatat bahwa pemerintah daerah belum bisa memberikan toleransi terhadap mekanisme pembiayaan dan pengeluaran yang lebih otonomis di tingkat puskesmas, terutama dalam pengelolaan dana subsidi dan dana retribusi yang 50 persen dikembalikan ke puskesmas. Jumlah dari kedua dana ini relatif besar dan mempengaruhi kegiatan operasional di puskesmas. Meskipun puskesmas diberikan kelonggaran mengatur tarif sendiri yang tidak diatur dalam peraturan daerah, fleksibilitas dalam hal terakhir ini memiliki arti kecil bagi pendapatan puskesmas. Kesimpulan dan Saran Kegiatan unggulan Puskesmas Alianyang belum semuanya memperlihat kemandirian seperti yang diharapkan. Hal ini berkaitan dengan kekakuan peraturan pemerintah dalam pengelolaan dana retribusi yang dikembalikan ke puskesmas. Sebagai saran, penelitian ini mengharapkan ada kelonggaran dalam peraturan penganggaran bagi unit khusus di puskesmas dengan cara pengembalian 100 persen retribusi ke puskesmas agar unit ini bisa mengalami kelancaran cash flow untuk berkembang. Keputusan untuk menentukan besar anggaran untuk berbagai jenis pengeluaran diberikan kepada puskesmas sehingga kebutuhan-kebutuhan puskesmas dapat dipenuhi secara cepat, dinamis dan sesuai dengan realitas kegiatan.

Background: The close geographic position of Pantianak to Serawak with modern health service influence the outward pattern of community health seeking behavior and health service changes in the area. As response to this, local government has introduced a semi-autonomous service units to allow puskesmas to serve surrounded clients based on customers’ demand. The programs have run for 3 years. The puskesmas remains depend on the government subsidy. This study attempts to look at the efforts the puskesmas have done in developing the independent special services and how do they fail to show the expected outcome. Method: This study uses an embedded case design with puskesmas as the primay unit of analysis, while at the same time, the influence of district health office and regulatory environment from the local administration are also included as part of puskesmas system. The data for this analysis is taken from indepth interview and one focus group discussion with local administrators, puskesmas staff, and the staff of district health office. Result: Special obstetric unit and pediatrict specilist unit are two forms of services that Puskesmas Alianyang has developed in response to the need of the community. However, not all unit could survive. It is interesting to note that routine programs and pediatric specialist service show a good survival. While, the special unit on obstetric care could only survive based on the cross subsidy from other programs. Puskesmas income has not been able to produce out of pocket income of 50% of the total income. Direct income from patients has reached more than 40% of the total puskesmas need. This study also documents that thelocal government has no capacity to tolerate flexible financing and expending mechanism thar is more otonomous at the puskesmas level, particularly in dealing with subsidy fund and 50% of the retribution fund returned to puskesmas. The fund from these two sources is substantial and influence the cashflow for puskesmas operation. Although puskesmas has the flexibility in determining service charge for items not stated in the District Administration Decree, the impact on puskesmas income is relatively small. Conclusion: This study reports one case of puskesmas attempt to make better survival under competitive environment in the City of Pontianak. Although puskesmas have initiated an autonomous and competitive program expected to make better income and survival, it does not produce the expected reality. The inflexible regulation in local administration financial accountability does not allow the creation of room for better incentive from income the puskesmas gains. Puskesmas has not been able to respond creatively to the need of the people. All of these conditions make the puskesmas staff use the over the counter practices and self referral to their own private practice.

Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Anggaran Puskesmas,Pengelolaan Puskesmas Unngulan, Puskesmas Survival, budgetting for special service, community health center.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.