Evaluasi perencanaan dan penggunaan obat pasca kebijakan obat generik di Badan RSU Tabanan
MAHASTITI, Desak Gede, dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc.,PhD
2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Masalah pembiayaan obat merupakan masalah yang sering dikeluhkan oleh sebagian besar masyarakat. Salah satu upaya untuk mengendalikan pembiayaan obat adalah dengan menggunakan obat generik. Rumah sakit Tabanan sebagai salah satu rumah sakit pemerintah yang berada di Kabupaten Tabanan memberikan perhatian yang besar terhadap penggunaan obat generik, hal ini terlihat dari adanya kebijakan direktur tentang penggunaan obat generik utamanya di ruang perawatan kelas III. Tujuan: Mengidentifikasi pola perencanaan dan penggunaan obat setelah adanya kebijakan generik di rumah sakit umum Tabanan. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional untuk mengetahui perencanaan dan penggunaan obat di BRSu Tabanan. Data kuantitatif tentang penggunaan obat didapat dari Kartu Catatan pemberian Obat pasien rawat inap yang terlayani oleh instalasi farmasi dari bulan Juni 2004 sampai dengan Februari 2005. Data kualitatif mengenai perencanaan obat didapat dari hasil wawancara dengan direktur, ketua komite medis, kepala sub bagian keuangan dan kepala instalasi farmasi. Hasil: Sebelum diterapkannya kebijakan obat generik peresepan obat merek dagang umumnya dominan dan mencapai lebih dari 64%, akan tetapi sejak diterapkannya kebijakan obat generik peresepan merek dagang menurun hingga menjadi 53,2%. Rata-rata penulisan obat generik di ruang perawatan kelas III adalah sebesar 47,4%, dan setelah dilakukan uji statistik penulisan resep dengan menggunakan obat generik menunjukkan hasil yang bermakna (P<0,05) di ruang perawatan kelas II dan kelas III. Penghematan biaya obat dengan adanya kebijakan generik di rumah sakit Tabanan adalah sebesar 34,8%. Secara keseluruhan pemakaian antibiotika di rumah sakit Tabanan adalah sebesar 46,89%. Penggunaan obat sesuai dengan formularium 2003 masih belum optimal yaitu sebesar 70,10%. Kesimpulan: Kebijakan direktur tentang penggunaan obat generik telah meningkatkan prosentase peresepan obat generik meskipun belum menunjukkan hasil yang optimal. Biaya obat rumah sakit dapat dihemat dengan adanya kebijakan penggunaan obat generik. Dalam perencanaan obat digunakan metode konsumsi dengan dasar formularium rumah sakit dimana dalam perencanaan lebih mengutamakan obat generik dengan maksimal 2-3 item obat dengan nama dagang.
Background: Problem of drug cost is a problem that most people often complain about. One effort to control drug cost is by using generic drug. Tabanan Hospital as a public hospital located in Tabanan District gives serious attention to use a generic drugs. This is reflected from the implementation of a policy on use of generic drugs particularly in Inpatient ward Class III. Objective: To identify pattern of drug planning and use after the implementation of generic drug policy at Tabanan Hospital. Method: This was descriptive study which investigated the implementation of generic drug use policy at Tabanan Hospital. Quantitative data on drug use derived from notes on the supply of drugs to inpatient provided by Pharmaceutical Installation from June 2004 to February 2005. Qualitative data on drug planning were collected from result of interview with the director, head of medical committee, head of finance selection, and head of pharmaceutical installation. Result: Before the implementation of generic drug policy, branded drug prescription was generally high and reached more than 64%; however, since the implementation of generic drug policy, branded drug prescription decreased to 53,2%. Average of generic drug prescription at in patient ward Class III was 47,4%. Average decrease of drug cost if trademark drugs were replaced by generic drugs was 37,5%. Overall use of antibiotics at Tabanan Hospital was 46,89%. Use of drugs based on formularium in 2003 was 70,10%. Conclusion: The director’s policy use of generic drugs brought impact to drug use pattern at Tabanan Hospital. Cost of hospital drug could be saved through generic drug policy. Drug planning used consumption method based on hospital formularium and emphasized more on generic drugs with maximum 2 or 3 item of branded drugs.
Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Kebijakan Obat Generik,Evaluasi Perencanaan dan Penggunaan Obat