Analisis pembiayaan pertanian oleh BMT di Daerah Istimewa Yogyakarta
WILANTI, RR. Yuli Sri, Dr.Ir. Irham, M.Sc
2005 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianAdanya keterbatasan modal dan ketidakmampuan petani mengakses modal ke perbankan, mendorong petani untuk memilih sumber pembiayaan lain yang yang dapat dijangkau dengan mudah oleh petani. BMT sebagai salah satu LKM yang banyak tumbuh di pedesaan menjadi alternatif sumber pembiayaan bagi petani karena mampu memberikan pelayanan sesuai dengan karakteristik petani. Tujuan penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui jumlah pembiayaan pertanian dan pendapatan yang diperoleh BMT, (2) mengetahui NPls, dan (3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pembiayaan pertanian. Penelitian ini dilakukan terhadap 21 BMT di DIY yang telah melakukan pembiayaan pertanian. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Varians, Uji t dan Regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiayaan pertanian yang disalurkan sebesar 13,03% dari total volume pembiayaan BMT, dengan kontribusi pendapatan sebesar 6,6% dari total pendapatan BMT. Pola pembiayaan yang paling banyak digunakan dalam pertanian adalah Murabahah dengan kontribusi pendapatan sebesar 3,9%. Juga diketahui bahwa NPLs pertanian lebih tinggi dari sektor non pertanian, yaitu sebesar 7,25%. Pendapatan pertanian dari 4 pola pembiayaan yang digunakan tidak berbeda nyata, sedangkan pada pendapatan total terdapat perbedaan pendapatan antar pola pembiayaan. Juga terdapat perbedaan pendapatan dari kategori pola bagi hasil dan jual beli. Secara keseluruhan pembiayaan pertanian dipengaruhi oleh jumlah simpanan sukarela, tingkat pembiayaan pertanian yang bermasalah (NPLs) dan pendapatan pertanian.
The lack of capital and difficulty to access the bank has encouraged farmer to choose another source of capital that they can get easily. BMT as one of the microfinance institutions that grows in rural area become an alternative source of capital that give better service as farmer’s need. The objective of the study are: (1) to know the total amount of agriculture financing and the earnings by BMT, (2) to know the Non Performing Loans (NPLs) on agriculture sector, and (3) to identify factors which influences the total amount of the agriculture financing. The research was conducted by taking 21 BMTs in Daerah Istimewa Yogyakarta that have been doing agriculture financing. Analysis of Variance, two independent sample t-test and multiple linear regression are used in the analysis. The result indicates that the agriculture financing by BMT poses 13,03% from total financing which contributes as much as 6,6% to total earnings. Murabahah serves as the most common type of financing to agriculture sector, which gives contribution as much as 3,9% to the total earnings of BMT. The finding shows that NPLs on agriculture is 7,25% which means higher than non-agriculture sectors. No significant difference is found in the earnings of 4 types of agriculture financing, but there is a significant difference in total earnings. In fact, there is also a significant difference in the earnings from profit sharing and trade category. In general, the total amount of agriculture financing is influenced by savings, NPLs and earnings.
Kata Kunci : Kredit Pertanian, BMT