Fenomena 'Ke-Korea-Korea-an': Politik Budaya Industri Negeri Korea
Sekar Wilis Prawitasari, Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini berangkat dari meluasnya representasi kecantikan Korea Selatan dalam industri budaya dan kecantikan Indonesia yang memunculkan persoalan mengenai bagaimana kekuasaan budaya bekerja dalam pembentukan rujukan estetika masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana Korea Selatan melalui praktik politik budaya menyebarkan definisi kecantikan yang kemudian diadaptasi dan direproduksi di Indonesia sehingga membentuk kecenderungan orientasi identitas estetika perempuan urban Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretif melalui strategi analisis Power of Narrative yang disusun menggunakan alur outside-in, inside-out, dan making sense. Data penelitian bersumber dari literatur akademik, dokumen resmi, laporan industri, media digital, iklan, dan konten media sosial, dengan fokus analisis pada perempuan urban Indonesia berusia 15-35 tahun. Analisis mengintegrasikan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann, industri budaya Adorno dan Horkheimer, hegemoni kultural Gramsci, serta konsumsi simbolik Baudrillard. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran estetika Korea Selatan berlangsung melalui keterhubungan antara diplomasi budaya, produksi representasi oleh industri hiburan dan kecantikan, serta adaptasi dan reproduksinya oleh aktor lokal. Pengulangan representasi tersebut membuka kemungkinan terbentuknya pengetahuan sosial dan legitimasi simbolik yang menempatkan karakteristik estetika Korea sebagai salah satu rujukan dalam narasi kecantikan di Indonesia. Melalui mekanisme tersebut, soft power tidak hanya bekerja sebagai instrumen penyebaran budaya populer, tetapi juga berpotensi memengaruhi pembentukan otoritas estetika melalui hubungan antara industri, media, dan pengakuan sosial. Penelitian menyimpulkan bahwa kecenderungan orientasi identitas estetika perempuan urban Indonesia dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika politik budaya yang melibatkan produksi pengetahuan, potensi hegemoni, dan konsumsi simbolik, tanpa mengandalkan penerimaan atau perubahan identitas yang seragam di seluruh masyarakat.
This study examines the growing presence of South Korean beauty representations in Indonesia's cultural and beauty industries, raising questions about how cultural power operates in shaping social references for beauty. It aims to analyze how South Korea, through cultural politics, disseminates definitions of beauty that are subsequently adapted and reproduced in Indonesia, thereby contributing to the tendency toward particular aesthetic identity orientations among Indonesian urban women. Employing a qualitative approach within an interpretive paradigm, this study adopts Power of Narrative as an analytical strategy structured through outside-in, inside-out, and making sense perspectives. The research draws on secondary data, including academic literature, official documents, industry reports, digital media, advertisements, and social media content, with an analytical focus on Indonesian urban women aged 15-35. The analysis integrates Berger and Luckmann's theory of social construction, Adorno and Horkheimer's culture industry theory, Gramsci's cultural hegemony, and Baudrillard's theory of symbolic consumption. The findings indicate that the dissemination of South Korean beauty aesthetics operates through the interconnected processes of cultural diplomacy, the production of representations by entertainment and beauty industries, and their adaptation and reproduction by local actors. The repeated circulation of these representations creates conditions for the potential formation of social knowledge and symbolic legitimacy, positioning Korean aesthetic characteristics as one of the reference points within Indonesian beauty narratives. Through these mechanisms, soft power functions not only as an instrument for disseminating popular culture but also as a potential influence on the formation of aesthetic authority through interactions among industries, media, and social recognition. The study concludes that tendencies in the aesthetic identity orientations of Indonesian urban women can be understood as part of broader dynamics of cultural politics involving knowledge production, potential hegemonic processes, and symbolic consumption, without assuming uniform acceptance or identity transformation across the population.
Kata Kunci : soft power, politik budaya, hegemoni kultural, standar kecantikan, identitas estetika, Korea Selatan