Politik Ruang Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada sebagai Manifestasi Privatisasi Pendidikan Tinggi Indonesia
Satrio Fatah Andaru, Tapiheru Joash Elisha Stephen, S.I.P., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), sebagai transformasi dari Gelanggang Mahasiswa mengalami dinamika produksi ruang yang menjadi cerminan dari pergeseran orientasi pengelolaan kampus dari ruang publik kemahasiswaan menjadi ruang yang lebih berorientasi pada pasar. Perubahan statuta kampus UGM menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) pada tahun 2013 selain memberi otonomi lebih bagi UGM, turut memberi tekanan untuk mencapai kemandirian finansial, yang kemudian termanifestasi secara konkret pada pengelolaan ruang-ruang yang ada di kampus, termasuk GIK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana privatisasi pendidikan tinggi termanifestasi dalam dinamika produksi ruang GIK UGM. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Penelitian ini menggunakan kerangka teori Production of Space Henri Lefebvre sebagai kerangka analitis utama dan konsep privatisasi Stephen J. Ball sebagai konteks struktural guna membaca hubungan antara logika privatisasi yang terjadi secara institusional dan produksi ruang GIK secara konkret.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa GIK diproduksi melalui hubungan dialektis yang penuh kontestasi antara rezim ruang dominan institusi dengan rezim ruang alternatif penggunanya, yang berlangsung pada ketiga dimensi produksi ruang, conceived space, perceived space, serta lived space. Penelitian ini turut menemukan bahwa transformasi Gelanggang menjadi GIK mengikuti siklus privatisasi Ball, yakni destabilisasi dari wacana Gelanggang lama, disinvestasi melalui penarikan dukungan operasional oleh institusi, dan komodifikasi yang kemudian termanifestasi pada zonasi komersial dan sistem tarif ruang setelah menjadi GIK. Lebih jauh dari itu, penelitian ini turut menemukan bahwa komodifikasi yang terjadi turut menjangkau mahasiswa yang kemudian menempati posisi ganda, sebagai konsumen dari program dan fasilitas GIK sekaligus sebagai komoditas atau daya tawar yang ditawarkan institusi terhadap pihak eksternal atau mitra GIK. Dengan demikian, GIK bukan hanya sebatas objek yang dipengaruhi oleh privatisasi, tetapi turut menjadi arena aktif tempat logika pasar direproduksi melalui relasi antara institusi pendidikan, mahasiswa, dan industri.
Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), as a transformation from Gelanggang Mahasiswa has undergone spatial transformations that reflect a shift in campus management’s orientation from student-centered public space to a space that is more market-oriented. The change in UGM’s status to that of a State University with Legal Entity Status (PTN-BH) in 2013 not only granted UGM with greater autonomy but also created pressure to achieve financial independence, which manifested concretely in the management of spaces on campus, including GIK. This study aims to analyze how the privatization of higher education manifests in the dynamics of the production of space at UGM’s GIK. This study employs a qualitative method using a qualitative approach through literature review, field observation, and in-depth interviews. This study employs Henri Lefebvre’s “Production of Space” as its primary analytical framework and Stephen J. Ball’s concept of privatization as the structural context to examine the relationship between the institutional logic of privatization and the concrete production of GIK space.
The results of this study show that GIK is produced through a dialectical relationship, that is fraught with contestation between the dominant spatial regime of the institution and the alternative spatial regime of its users, which unfolds across the three dimensions of production of space: conceived space, perceived space, and lived space. This study also found that the transformation of Gelanggang into GIK followed Ball’s cycle of privatization: the destabilization of the discourse surrounding the old Gelanggang, disinvestment through the withdrawal of operational support by the institution, and commodification, which subsequently manifested in commercial zoning and pricing system after it became GIK. Furthermore, this study found that the commodification that occurred also extended to students, who occupied a dual position as consumers of GIK’s programs and facilities, and simultaneously as commodities or bargaining chips offered by the institution to external parties or GIK’s partners. Thus, GIK is not merely an object affected by privatization, but also serves as an active arena where market logic is reproduced through the relationships between educational institutions, students, and industry.
Kata Kunci : Privatisasi Pendidikan Tinggi, Komodifikasi, Produksi Ruang, Lefebvre, PTN-BH, GIK UGM