Laporkan Masalah

Distribusi Penguasaan Lahan Perhutanan Sosial di Kelompok Tani Hutan Wonosuko Lestari Desa Sumberagung Kecamatan Panggungrejo Blitar

Aulia Indarojati, Agus Affianto, S.Hut., M.Si.

2026 | Skripsi | KEHUTANAN

Pertumbuhan penduduk di sekitar hutan yang semakin meningkat dapat menyebabkan terjadinya tekanan penduduk terhadap lahan termasuk kawasan hutan. Tekanan terhadap lahan yang semakin meningkat berpotensi menimbulkan konflik tenurial dan ketimpangan penguasaan lahan. Pemerintah mengeluarkan kebijakan perhutanan sosial yang bertujuan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan melalui pemberian akses kelola secara legal. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi luas penguasaan lahan masyarakat dan mengidentifikasi pengaruh perhutanan sosial terhadap ketimpangan penguasaan lahan masyarakat sebelum dan setelah adanya perhutanan sosial.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan pengumpulan data menggunakan metode survei. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Teknik penentuan sampel menggunakan rumus Yamane yaitu sebanyak 74 sampel. Penentuan sampel tiap desa menggunakan alokasi proporsional dan penentuan responden menggunakan teknik simple random sampling. Distribusi penguasaan lahan dianalisis menggunakan koefisien Gini dan kurva Lorenz.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata luas penguasaan lahan responden sebelum dan setelah perhutanan sosial mengalami peningkatan dari 0,29 ha/rumah tangga menjadi 0,56 ha/rumah tangga. Sedangkan rata-rata luas penguasaan lahan per kapita sebelum dan setelah perhutanan sosial sebesar 0,12 ha menjadi 0,22 ha. Pengaruh perhutanan sosial terhadap ketimpangan penguasaan lahan yaitu ketimpangan penguasaan lahan menurun dari koefisien Gini 0,45 (kurang merata atau relatif timpang) menjadi 0,33 (merata). Pada skala per kapita, koefisien Gini dari 0,47 menjadi 0,39 mengalami selisih angka 0,08, namun hasil tersebut masih dalam kategori kurang merata atau relatif timpang. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam pendistribusian lahan selain mempertimbangkan penguasaan lahan awal, sebaiknya juga mempertimbangkan jumlah tanggungan dalam rumah tangga.

The growing population living near forests can lead to population pressure on land, including forest areas. Increasing pressure on land has the potential to lead to tenure conflicts and inequities in land ownership. The government has issued social forestry policies aimed at involving communities in forest management by granting them legal access to manage the land. This study aims to estimate the extent of community land tenure and identify the impact of social forestry on inequalities in community land tenure before and after the approval of social forestry management agreements.

This study employed a quantitative descriptive approach, with data collected via a survey. Data collection techniques included observation, interviews, and document analysis. Sampling was determined using Yamane’s formula, resulting in 74 samples. Samples were allocated proportionally across villages, and respondents were selected using simple random sampling. Land tenure distribution was analyzed using the Gini coefficient and the Lorenz curve.

The results showed that the average land tenure area per respondent before and after the implementation of social forestry increased from 0.29 ha/household to 0.56 ha/household. Meanwhile, the average per capita land tenure area before and after the implementation of social forestry increased from 0.12 ha to 0.22 ha. The impact of social forestry on land tenure inequality was that inequality decreased from a Gini coefficient of 0.45 (moderate inequality) to 0.33 (low inequality). On a per capita basis, the Gini coefficient decreased from 0.47 to 0.39, a difference of 0.08, but this result still falls within the moderate inequality category. This indicates that in land distribution, in addition to considering initial land tenure, the number of dependents in a household should also be taken into account.

Kata Kunci : penguasaan lahan, ketimpangan, perhutanan sosial, koefisien Gini, kurva Lorenz

  1. S1-2026-505517-abstract.pdf  
  2. S1-2026-505517-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-505517-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-505517-title.pdf