BANK SAMPAH, ACTIVE CITIZENSHIP, DAN SOLUSI MASALAH SAMPAH PERKOTAAN: Studi Kasus Bank Sampah Eco Migunani di Banguntapan, Bantul DIY
Muhammad Aminudin, Dr. Drs. Suharman, M.Si.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Sampah domestik di kawasan
perkotaan, termasuk Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, terus meningkat
akibat tingginya kepadatan penduduk dan rendahnya kesadaran memilah sampah,
persoalan yang kian mendesak sejak penutupan permanen TPST Piyungan pada Mei
2024. Di tengah kondisi tersebut, Bank Sampah Eco Migunani di Perum Graha
muncul sebagai inisiatif warga yang konsisten menjalankan pengelolaan sampah
berbasis partisipasi aktif selama satu dekade, sehingga menarik dikaji sebagai
bentuk active citizenship dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan.
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus intrinsik. Data dikumpulkan
melalui wawancara mendalam dengan empat informan (ketua, pengurus, dan dua
nasabah) yang dipilih melalui snowball sampling, serta dokumen internal
komunitas seperti laporan pertanggungjawaban dan data penimbangan satu dekade.
Data diolah melalui transkripsi verbatim dan coding, lalu dianalisis
menggunakan teori modal sosial (Bourdieu, 1986; Coleman, 1988) dan active
citizenship (Gaynor, 2009; Arjen et al., 2017; Moro, 2012; Mattijssen,
2022), dilengkapi kerangka relasi kuasa (Arnstein, 1969; Gaventa, 2006) dan
perspektif gender (Molyneux, 1985).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Bank Sampah Eco Migunani telah mengubah kondisi sosial masyarakat Perum Graha
dari paradigma kumpul-angkut-buang yang pasif menjadi komunitas mandiri,
dengan jumlah nasabah tumbuh dari 74 orang (2015) menjadi 243 orang (2024)
melalui tiga fase perkembangan, yaitu perintis, penguatan, dan konsolidasi,
serta tertanam dalam jaringan antar-komunitas bank sampah yang lebih luas
bersama Bank Sampah Gemah Ripah. Partisipasi warga didorong oleh kesadaran
lingkungan, insentif ekonomi, keteladanan pengurus, dan desakan penutupan TPST
Piyungan, namun dihambat oleh kesadaran yang belum merata, keberadaan layanan
konvensional, dan minimnya dukungan pemerintah tingkat bawah. Kontribusi active
citizenship komunitas ini terbukti nyata dalam ranah ekologis, ekonomi
(nilai penjualan sampah Rp 63.280.322 selama satu dekade), sosial, dan
ekosistem (pertumbuhan empat puluh satu pengelola sampah mandiri lainnya
se-Kecamatan Banguntapan). Namun, analisis relasi kuasa menunjukkan bahwa
pengakuan negara terhadap komunitas ini belum sepenuhnya setara, dan
keberhasilannya turut ditopang oleh privilese modal sosial dan ekonomi warga
Perum Graha serta jaringan personal pengurus, sementara partisipasi tetap
didominasi perempuan tanpa disertai perubahan berarti dalam pembagian kerja
domestik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa active citizenship merupakan
praktik sosial yang berdampak nyata ketika ditopang modal sosial yang kuat dan
kepemimpinan yang konsisten, namun keberhasilan tersebut bersifat kontekstual
dan tidak dapat dilepaskan dari relasi kuasa, privilese struktural, dan
dinamika gender yang menyertainya, sehingga keberlanjutannya tetap membutuhkan
dukungan struktural yang lebih tegas dan setara dari pemerintah.
Domestic waste in urban areas,
including Banguntapan District, Bantul Regency, continues to increase due to
high population density and limited public awareness in sorting waste at its
source, a problem that has grown more urgent since the permanent closure of the
Piyungan landfill in May 2024. Amid this condition, Bank Sampah Eco Migunani in
Perum Graha has emerged as a citizen-led initiative that has consistently
practiced participatory waste management for a decade, making it worth
examining as a form of active citizenship in addressing urban waste problems.
This study employs a qualitative
approach using an intrinsic case study method. Data were collected through
in-depth interviews with four informants (the chairperson, an administrator,
and two members) selected using snowball sampling, as well as internal
community documents such as accountability reports and a decade of weighing
data. The data were processed through verbatim transcription and coding, then
analyzed using social capital theory (Bourdieu, 1986; Coleman, 1988) and active
citizenship (Gaynor, 2009; Arjen et al., 2017; Moro, 2012; Mattijssen, 2022),
supplemented by a power relations framework (Arnstein, 1969; Gaventa, 2006) and
a gender perspective (Molyneux, 1985).
The
findings show that Bank Sampah Eco Migunani has transformed the social
condition of the Perum Graha community from a passive
“collect-transport-dispose” paradigm into a self-reliant community, with the
number of members growing from 74 (2015) to 243 (2024) across three
developmental phases—pioneering, strengthening, and consolidation—while being
embedded within a wider inter-community waste bank network alongside Bank
Sampah Gemah Ripah. Community participation was driven by environmental
awareness, economic incentives, exemplary leadership, and the pressure
resulting from the closure of the Piyungan landfill, while being hindered by
uneven public awareness, the persistence of conventional waste collection
services, and limited support from local government. The community's active
citizenship contribution proved tangible across the ecological, economic (a
total waste sales value of IDR 63,280,322 over a decade), social, and ecosystem
dimensions (the growth of forty-one other independent waste management units
across Banguntapan District). However, a power relations analysis reveals that
state recognition of the community remains less than fully equal, and its
success has been partly sustained by the social and economic privilege of Perum
Graha residents and the personal networks of its leadership, while
participation remains dominated by women without substantial change in domestic
labor division. This study concludes that active citizenship is a socially
impactful practice when sustained by strong social capital and consistent
leadership, yet such success is context-dependent and inseparable from the
power relations, structural privilege, and gender dynamics that accompany it,
meaning its long-term sustainability still requires firmer and more equitable
structural support from the government.
Kata Kunci : bank sampah, active citizenship, modal sosial, pengelolaan sampah perkotaan.