Laporkan Masalah

Relasi Kuasa Pascakolonial dalam Ruang Digital melalui Teori Mimikri dan Hibriditas Bhabha dalam Ruang Hiburan Digital dengan Studi Kasus Virtual YouTuber Hololive Indonesia

T. Luthfi Nabil Faldira, Muhammad Rum S.I.P., I.M.A.S., Ph.D.

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini menganalisis relasi kuasa pascakolonial dalam ruang hiburan digital melalui studi kasus Virtual YouTuber (VTuber) Hololive Indonesia (Hololive ID) di bawah Cover Corp. Penelitian ini menggunakan teori mimikri dan hibriditas Homi K. Bhabha sebagai kerangka utama. Konsep mukokuseki Koichi Iwabuchi dan gagasan Jacques Rancière tentang politik estetika (pembagian indrawi dan policing order) menjadi pendukungnya. Untuk mengukur tingkat ketergantungan talenta pada pusat, penelitian ini memakai kategori Kontrol Sentral Absolut (Wallerstein), Kontrol Adaptif (imperialisme platform Dal Yong Jin), dan Otonomi (delinking Samir Amin). Pertanyaan penelitiannya adalah bagaimana talenta Hololive ID menegosiasikan identitas dalam ekosistem hegemoni korporat Jepang melalui tarik-ulur antara mimikri infrastruktur dan praktik hibridisasi dalam kreasi konten di YouTube.

Penelitian ini memakai metode studi kasus kualitatif dengan Matriks Ceklis (Miles, Huberman & Saldaña, 2014) dan teknik pencocokan pola. Data diambil dari siaran langsung, VOD, musik, dan klip clipper Indonesia berdasarkan catatan waktu. Temuan Bab II menunjukkan bahwa mimikri berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu estetika dan infrastruktur, linguistik, serta perilaku. Kontrol Cover Corp. paling absolut pada aspek infrastruktur, kepemilikan IP, dan manajerial, sedangkan aspek linguistik dan perilaku bersifat adaptif. Temuan Bab III menunjukkan bahwa celah dalam mimikri membuka Ruang Ketiga. Di dalamnya terjadi hibriditas visual, hibriditas linguistik (slippage dan diskursus enunsiatif), serta disrupsi persona (mockery dan kepatuhan semu). Hibridisasi yang organik dan bottom-up ini dibedakan dari glokalisasi yang disetujui pusat. Praktik tersebut melemahkan netralitas mukokuseki secara kultural. Namun, pengumuman penggabungan cabang Hololive pada 7 September 2026 mengancam keberlanjutan budaya hibrida ini. Penelitian ini berkontribusi pada studi pascakolonial, diplomasi publik, dan kajian Global South dalam Hubungan Internasional


This study examines postcolonial power relations in digital entertainment through the case of Hololive Indonesia (Hololive ID), a Virtual YouTuber (VTuber) agency under Japan’s Cover Corp. It uses Homi K. Bhabha’s concepts of mimicry and hybridity as its main theoretical framework. It is supported by Koichi Iwabuchi’s concept of mukokuseki and Jacques Rancière’s politics of aesthetics (the distribution of the sensible and the policing order). To gauge the talents’ dependence on the center, it applies three categories: Absolute Central Control (Wallerstein), Adaptive Control (Dal Yong Jin’s platform imperialism), and Autonomy (Samir Amin’s delinking). The research asks how Hololive ID talents negotiate their identities within a Japanese corporate hegemony, through the tension between infrastructural mimicry and hybridizing practices in their daily content creation on YouTube.

The methodology involved adopts a qualitative case study design, using a checklist matrix (Miles, Huberman & Saldaña, 2014) and pattern matching. The data are timestamped live streams, VODs, music videos, and clips by Indonesian clippers. Chapter II finds that mimicry takes three forms: aesthetic and infrastructural, linguistic, and behavioral. Cover Corp.’s control is absolute over infrastructure, intellectual property, and talent management, and adaptive over language and behavior. Chapter III shows that the gaps built into mimicry open a Third Space. Hybridity emerges there as visual hybridity, linguistic hybridity (slippage and enunciative discourse), and persona disruption (mockery and sly civility). This organic, bottom-up hybridization is distinguished from glocalization, which the center sanctions. These practices culturally weaken the neutrality that mukokuseki is meant to project. However, the announcement on 7 September 2026 that Hololive’s regional branches would merge threatens the survival of this hybrid culture. The study contributes to postcolonial studies, public diplomacy, and Global South perspectives in International Relations.


Kata Kunci : Mimikri, Hibriditas, VTuber, Mukokuseki, Hegemoni, Hololive, Pascakolonial

  1. S1-2026-504077-abstract.pdf  
  2. S1-2026-504077-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-504077-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-504077-title.pdf