Evaluasi Neraca Air dan Proyeksi Kecukupannya di Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul
Yulia Dwi Azizah, Ir. Muhammad Chrisna Satriagasa, S.Si., M.Sc., M.Ec.Dev., Ph.D.
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Kalurahan Jepitu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul merupakan kawasan karst yang sebagian besar masyarakatnya bergantung pada sistem Pemanenan Air Hujan (PAH) sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan air. Karakteristik kawasan karst yang memiliki lapisan tanah tipis dan sistem aliran bawah permukaan menyebabkan ketersediaan air sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis ketersediaan air, kebutuhan air masyarakat, proyeksi kecukupan air periode 2025–2045, serta pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap ketahanan air di Kalurahan Jepitu.
Ketersediaan air dianalisis menggunakan metode neraca air Thornthwaite–Mather dan dikaitkan dengan pengaruh El Niño–Southern Oscillation (ENSO) serta Indian Ocean Dipole (IOD). Kebutuhan air diperoleh melalui survei terhadap 100 rumah tangga. Perubahan tutupan lahan dianalisis menggunakan citra Sentinel-2 Surface Reflectance Harmonized (COPERNICUS/S2_SR_HARMONIZED) yang diakses melalui platform Google Earth Engine dengan akurasi klasifikasi sebesar 87,95%. Proyeksi kecukupan air disusun berdasarkan data CMIP6 pada tiga skenario perubahan iklim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kalurahan Jepitu masih memiliki surplus air meteorologis secara tahunan, meskipun beberapa tahun mengalami defisit akibat variabilitas iklim dengan pengaruh IOD yang lebih kuat dibandingkan ENSO. Rata-rata kebutuhan air domestik mencapai sekitar 92 L/orang/hari. Meskipun potensi air hujan secara teoretis mencukupi, kapasitas tampungan PAH yang terbatas menyebabkan kebutuhan air belum terpenuhi sepanjang musim kemarau. Hingga tahun 2045, potensi air hujan diproyeksikan relatif stabil, sedangkan kebutuhan air terus meningkat sehingga surplus air cenderung menurun. Perubahan tutupan lahan juga berpotensi menurunkan fungsi hidrologi kawasan karst. Oleh karena itu, peningkatan ketahanan air perlu dilakukan melalui peningkatan kapasitas PAH, perlindungan kawasan resapan, dan penerapan nature-based solutions (NbS).
Kata Kunci : kawasan karst, ketahanan air, pemanenan air hujan, perubahan tutupan lahan, nature-based solutions (NbS).