Pengembangan Model Penjadwalan Barge-to-Crane Bi-Objektif untuk Minimasi Makespan dan Emisi Karbon pada Proses Transshipment Batubara: Studi Kasus Perusahaan Tambang
Riezky Anindhita Putri, Prof. Ir. Nur Aini Masruroh, ST., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.
2026 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI
Pada
fasilitas transshipment batubara berbasis sungai, keputusan alokasi dan
urutan pemuatan tongkang (barge) pada floating crane menentukan
waktu penyelesaian pemuatan kapal (makespan) sekaligus lamanya barge
berada di fasilitas, yaitu selama menunggu giliran dan selama dimuat. Selama
periode tersebut, kapal tunda (tugboat) yang menarik barge tetap
beroperasi dan menghasilkan emisi karbon. Model penjadwalan barge-to-crane
sebelumnya memperlakukan satu jam waktu tunggu secara seragam bagi seluruh barge,
padahal barge berkapasitas lebih besar ditarik tugboat berdaya
lebih tinggi sehingga menghasilkan emisi per satuan waktu yang lebih besar. Penelitian
ini mengembangkan model Mixed Integer Linear Programming bi-objektif
yang meminimalkan makespan dan estimasi emisi CO?, diformulasikan sebagai
Unrelated Parallel Machine Scheduling Problem dengan batasan release
time, kesiapan crane, dan non-overlap. Data teknis tugboat
tidak dapat diakses dalam penelitian ini, sehingga laju emisi diestimasi
melalui klasifikasi Natural Breaks (Jenks) atas 41 observasi tonase barge,
fungsi linear kebutuhan daya tugboat, dan kerangka estimasi emisi bottom-up.
Model diselesaikan menggunakan metode epsilon-constraint dengan exact
solver pada data historis lima kapal. Klasifikasi menghasilkan tiga kelas barge
dengan estimasi laju emisi fase idle sebesar 21,8; 79,7; dan 126,7 kg
CO? per jam. Hasil optimasi menghasilkan 11 solusi non-dominated dengan
satu hingga empat alternatif per kapal dan rata-rata marginal emission
penalty sebesar 127,05–531,55 kg CO? per jam pengurangan makespan.
Tambahan emisi cenderung meningkat tajam ketika solusi mendekati makespan
minimum. Analisis sensitivitas dengan penskalaan seragam laju emisi ±20?n
±30% menunjukkan bahwa himpunan solusi non-dominated dan nilai makespan-nya
tidak berubah, sedangkan besaran emisi berubah sebanding dengan faktor skala.
Struktur solusi tersebut bersyarat pada perbandingan laju emisi antarkelas
hasil estimasi. Makespan minimum model identik dengan hasil reproduksi model
sebelumnya. Dibandingkan kebijakan First-In-First-Out aktual, solusi makespan
minimum memperbaiki makespan pada empat dari lima kapal hingga 22,82%.
Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan informasi konsekuensi
emisi dari setiap alternatif jadwal bagi pengambil keputusan.
At
river-based coal transshipment facilities, decisions on the allocation and
sequencing of barges to floating cranes determine both the vessel loading
completion time (makespan) and the time each barge spends at the facility, both
waiting for its turn and being loaded. Throughout this period, the tugboat
towing the barge remains in operation and generates carbon emissions. Existing
barge-to-crane scheduling models treat one hour of waiting time as uniform
across all barges, although larger-capacity barges are served by higher-powered
tugboats and therefore generate greater emissions per unit of time. This study
develops a bi-objective Mixed Integer Linear Programming model that minimises
makespan and estimated CO? emissions, formulated as an Unrelated Parallel
Machine Scheduling Problem with release time, crane readiness, and non-overlap
constraints. As tugboat technical data could not be accessed in this study,
emission rates are estimated through a Natural Breaks (Jenks) classification of
41 barge tonnage observations, a linear tugboat power function, and a bottom-up
emission estimation framework. The model is solved using the epsilon-constraint
method with an exact solver on historical data from five vessels. The
classification yields three barge classes with estimated idle-phase emission
rates of 21.8, 79.7, and 126.7 kg CO? per hour. The optimisation yields 11
non-dominated solutions, with one to four alternatives per vessel and average
marginal emission penalties ranging from 127.05 to 531.55 kg CO? per hour of
makespan reduction. Additional emissions tend to increase sharply as solutions
approach minimum makespan. A sensitivity analysis applying uniform scaling of
±20% and ±30% to all emission rates shows that the set of non-dominated
solutions and their makespan values remain unchanged, while emission magnitudes
change in proportion to the scaling factor. This solution structure is
conditional on the estimated ratios of emission rates between barge classes.
The minimum makespan of the proposed model is identical to that obtained by
reproducing the previous model. Compared with the current First-In-First-Out
policy, the minimum-makespan solution improves makespan in four of five vessels
by up to 22.82%. The main contribution of this study lies in providing
information on the emission consequences of each scheduling alternative to
decision makers.
Kata Kunci : penjadwalan barge-to-crane, unrelated parallel machine scheduling, emisi karbon, epsilon-constraint, transshipment batubara. barge-to-crane scheduling, unrelated parallel machine scheduling, carbon emissions, epsilon-constraint, coal transshipment