Globalisasi Budaya Kuliner Sushi Jepang di Asia Tenggara: Studi Kasus Singapura dan Indonesia
Cut Nabila Siregar, Siti Daulah Khoiriati, MA
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penyebaran budaya kuliner sushi Jepang ke Asia Tenggara menjadi fenomena globalisasi kuliner yang terus meluas seiring intensifikasi mobilitas manusia, perdagangan bahan baku, dan ekspansi korporasi lintas kawasan. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi pustaka dan studi kasus multiple, skripsi ini mengkaji bagaimana globalisasi mendorong penyebaran sushi di Asia Tenggara dan bagaimana budaya kuliner tersebut berkembang di Singapura dan Indonesia. Menggunakan kerangka Held (1997), penelitian ini menemukan bahwa domain komunikasi-budaya, perdagangan, dan korporasi multinasional bekerja secara berlapis: diaspora Jepang membuka jalur penerimaan kultural secara bottom-up, jaringan perdagangan menopangnya secara material, sementara ekspansi Sushiro dibawah Food & Life Companies melembagakan konsumsi sushi secara struktural. Menggunakan konsep glokalisasi Robertson (1995), penelitian ini mengidentifikasi bahwa mekanisme penyebaran yang serupa tersebut bertemu konteks domestik berbeda: di Singapura, adaptasi bergerak ke arah demokratisasi harga dan diversifikasi rasa multikultural; di Indonesia, adaptasi berpusat pada kehalalan sebagai sumbu negosiasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran sushi bukan difusi budaya tunggal, melainkan proses ekonomi-politik berlapis yang menghasilkan bentuk glokalisasi berbeda signifikan meski bersumber dari jalur globalisasi yang sama.
The spread of Japanese sushi culture to Southeast Asia represents a culinary globalization phenomenon that continues to expand alongside intensified human mobility, the trade of ingredients, and cross-regional corporate expansion. Employing a qualitative approach involving literature reviews and multiple case studies, this thesis examines how globalization drives the spread of sushi in Southeast Asia and how this culinary culture has evolved in Singapore and Indonesia. Utilizing Held’s (1997) framework, the study finds that the domains of communication-culture, trade, and multinational corporations operate in a multi-layered manner: the Japanese diaspora paves the way for cultural acceptance from the bottom up, trade networks provide material support, and the expansion of Sushiro (under Food & Life Companies) structurally institutionalizes sushi consumption. Drawing on Robertson’s (1995) concept of glocalization, the research identifies that these similar dissemination mechanisms encounter distinct domestic contexts: in Singapore, adaptation moves toward price democratization and multicultural flavor diversification; in Indonesia, adaptation centers on “halal” status as the focal point of negotiation. These findings demonstrate that the spread of sushi is not a singular instance of cultural diffusion but rather a multi-layered political-economic process that yields significantly different forms of glocalization, despite originating from the same globalization pathways.
Kata Kunci : Globalisasi, Glokalisasi, Sushi, Difusi Kuliner, Asia Tenggara, Singapura, Indonesia / Globalization, Glocalization, Sushi, Culinary Diffusion, Southeast Asia, Singapore, Indonesia