Tanggapan Fisiologis, Pertumbuhan, dan Hasil Serat Abaka (Musa textilis Nee) terhadap Kandungan Besi pada Tiga Lokasi Berbeda
YUSUF PURWANTO, Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, S.P., M.P.; Dr. Elly Syafriani, S.P.; Niken Nabilaputri Pranaasari, S.P., M.Agr.
2026 | Skripsi | AGRONOMI
Abaka
adalah jenis pisang penghasil serat alami dari Filipina. Besi adalah salah satu
unsur yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan abaka. Tujuan dari
penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh kadar variasi Fe tersedia dalam tanah terhadap
aktivitas fisiologi, pertumbuhan, dan hasil serat abaka. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Oktober 2022-Maret 2023 di tiga lokasi budidaya abaka
yaitu Kecamatan Ngemplak, Kecamatan Pakem, dan Kecamatan Cangkringan, pengujian
sampel tanaman dan tanah dilakukan di Laboratorium Manajemen Produksi Tanaman
dan Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Penelitian
ini menggunakan rancangan lingkungan multilokasi. Variabel yang diamati,
karakter iklim mikro, sifat fisika dan kimia tanah, kandungan dan serapan Fe
daun, aktivitas fisiologis, pertumbuhan abaka, serta hasil serat abaka. Data
yang diperoleh kemudian dianalisis kovarian (ANKOVA), Jika terdapat hasil beda
nyata antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Tukey ? 5%. Hasil penelitian
menunjukkan perbedaan kandungan Fe tersedia tanah akhir yang berbeda nyata.
Kandungan Fe tersedia akhir tertinggi di lahan Ngemplak sebesar 1,84 mg/kg;
kemudian lahan Pakem sebesar 0,95 mg/kg, kemudian lahan Cangkringan sebesar
0,73 mg/kg. Kandungan Fe tersedia tanah akhir di lahan Ngemplak membuat serapan
kandungan dan serapan Fe daun abaka menjadi tinggi. Kandungan dan serapan Fe
daun abaka yang tinggi membuat kapasitas fisiologis, pertumbuhan dan serat
abaka di lahan Ngemplak lebih tinggi.
Abaca is a type of banana that produces natural fiber
from the Philippines. Iron is one of the elements that plays an important role
in abaca growth. The purpose of this research was to determine the effect of
variations in available Fe levels in the soil on physiological activity,
growth, and abaca fiber yield. The research was conducted from October 2022 -
March 2023 in three abaca cultivation locations, Ngemplak, Pakem, and Cangkringan.
While testing of plant and soil samples was carried out at the Crop Production
Management Laboratory and Soil Laboratory, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University.
This research used a multi-location environmental design. The observed variables
were microclimate characteristics, soil physical and chemical properties, leaf
Fe content and absorption, physiological activity, abaca growth, and abaca
fiber yield. The data obtained were then analyzed for covariance (ANCOVA). If
there were significant differences between treatments, a Tukey ? 5% test was
used. The results showed a significant difference in the final available Fe of
the soil. The highest final available Fe was in the Ngemplak at 1,84 mg/kg;
then the Pakem at 0,95 mg/kg, and the Cangkringan at 0,73 mg/kg. The final
available Fe content of the soil in the Ngemplak resulted in high Fe content
and uptake by abaca leaves. The high Fe content and uptake of abaca leaves
resulted in higher physiological capacity, growth, and fiber content of abaca
in Ngemplak.
Kata Kunci : abaka, besi, fisiologi, pertumbuhan, serat