Laporkan Masalah

Dinamika Konflik di Balik Pengelolaan Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Selo

Muchammad Nuzul Resi Panuntun, Dr. Ratnawati, S.U

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini mengkaji dinamika konflik yang terjadi di balik pengelolaan jalur pendakian Gunung Merbabu via Selo, sebuah kawasan wisata pendakian yang berada dalam wilayah Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Meningkatnya intensitas pariwisata pendakian di jalur ini melahirkan persaingan kepentingan antara berbagai aktor yang terlibat, yakni Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), masyarakat Desa Tarubatang, warga Desa Selo sebagai pengelola Jalur Pendakian Merbabu via Selo Gancik sebagai jalur tandingan yang berstatus ilegal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami proses dan perkembangan konflik dari akar penyebabnya hingga dinamika yang menyertainya, serta menganalisis kepentingan masing-masing aktor dalam praktik pengelolaan kawasan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada narasumber terpilih dari kalangan masyarakat lokal dan perwakilan BTNGMb. Analisis data menggunakan kerangka Teori Segitiga Konflik Johan Galtung yang terdiri dari tiga elemen utama, yaitu Contradiction, Attitude, dan Behavior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik di kawasan ini bersifat berlapis: lapisan horizontal berupa ketimpangan distribusi manfaat dan akses geografis antara Desa Tarubatang dan Desa Selo, serta lapisan vertikal berupa pertentangan antara warga Desa Selo sebagai pengelola Jalur Gancik dan BTNGMb yang berakar pada perbedaan legitimasi dalam mengklaim hak pengelolaan kawasan. Temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa Jalur Gancik berkembang menjadi common enemy yang secara paradoksal merestrukturisasi peta konflik: alih-alih memperkuat polarisasi antara masyarakat Tarubatang dan BTNGMb, kehadiran jalur ilegal ini justru meredamnya sementara karena kedua pihak sama-sama dirugikan oleh eksistensi jalur tersebut. Selama kontradiksi struktural yang mendasari konflik ini belum diselesaikan secara substantif, dinamika konflik akan terus berlangsung dalam siklus yang bersifat persisten.

This study examines the dynamics of conflict surrounding the management of the Mount Merbabu hiking trail via Selo, a hiking tourism area located within Mount Merbabu National Park (TNGMb) in Boyolali Regency, Central Java, Indonesia. The increasing intensity of hiking tourism along this route has generated competing interests among the actors involved, namely the Mount Merbabu National Park Office (BTNGMb), the community of Tarubatang Village, and residents of Selo Village, who manage the Mount Merbabu hiking trail via Selo Gancik as an alternative route operating without official authorization. This study aims to understand the process and evolution of the conflict, from its underlying causes to its subsequent dynamics, and to analyze the interests of each actor in area management practices. This research employs a descriptive qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews with selected informants from local communities and representatives of BTNGMb. The data were analyzed using Johan Galtung’s Conflict Triangle Theory, which comprises three main elements: contradiction, attitude, and behavior. The findings reveal that the conflict in this area is multilayered, consisting of a horizontal dimension characterized by unequal benefit distribution and geographical access between Tarubatang Village and Selo Village, and a vertical dimension involving a dispute between Selo Village residents managing the Gancik Trail and BTNGMb, rooted in differing claims to legitimacy over the right to manage the area. A key finding is that the Gancik Trail has emerged as a common enemy that paradoxically restructures the conflict landscape. Rather than intensifying polarization between the Tarubatang community and BTNGMb, the existence of this unauthorized trail temporarily mitigates tensions between the two parties, as both are adversely affected by its presence. As long as the structural contradictions underlying this conflict remain substantively unresolved, the conflict will continue to unfold in a persistent cycle.

Kata Kunci : dinamika konflik, taman nasional, pariwisata pendakian, Teori Segitiga Konflik Galtung, Gunung Merbabu, Jalur Gancik, konflik pengelolaan kawasan

  1. S1-2026-505289-abstract.pdf  
  2. S1-2026-505289-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-505289-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-505289-title.pdf