Tanggapan Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah (Allium cepa L. Kelompok Aggregatum) terhadap Sistem Tanam Jajar Legowo dan Frekuensi Pemberian Biostimulan Asam Amino
Salsa Rima Ayu Pramesti, Dr. Ir. Endang Sulistyaningsih, M.Sc.; Valentina Dwi Suci Handayani, S.P., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | AGRONOMI
Bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan
hortikultura bernilai ekonomis dengan prospek yang baik untuk memenuhi konsumsi
nasional. Peningkatan produktivitas bawang merah dapat dilakukan melalui
pengaturan sistem tanam jajar legowo. Namun, jarak tanam yang rapat dalam
barisan dapat menciptakan cekaman kompetisi antar tanaman sehingga diperlukan
biostimulan berbasis asam amino untuk mengatasi stres akibat cekaman fisiologis
dari jarak tanam yang rapat. Biostimulan ini berperan dalam meningkatkan
penyerapan air dan nutrisi, pertumbuhan vegetatif, serta proses metabolisme
tanaman. Tujuan penelitian adalah mendapatkan pengaturan sistem tanam dan
frekuensi pemberian biostimulan asam amino yang optimal untuk meningkatkan
pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian disusun menggunakan Rancangan
Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan satu faktor perlakuan yang terdiri atas
enam kombinasi sistem tanam (tegel dan jajar legowo) dan frekuensi pemberian
biostimulan asam amino (tanpa pemberian biostimulan, 14 dan 28 HST, serta 14,
28, dan 42 HST). Data dianalisis menggunakan analisis varian dengan ? = 5%,
dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat
kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sistem tegel
dengan pemberian biostimulan asam amino sebanyak dua kali memberikan respons
pertumbuhan dan hasil yang baik untuk bawang merah. Hal ini ditunjukkan oleh
perkembangan sistem perakaran dan luas permukaan daun serta parameter bobot
segar akar, bobot kering akar, bobot kering total, bobot segar umbi, bobot
kering umbi, jumlah umbi, diameter umbi, dan produktivitas yang meningkat
hingga 61,33% dibandingkan sistem tegel tanpa pemberian biostimulan.
Shallot are one of the leading horticultural commodities of
economic value, with good prospects for meeting national consumption.
Productivity of shallot can be increased through the use of the jajar legowo
planting system. However, close planting distances within rows can lead to competition
stress between plants; therefore, an amino acid-based biostimulant is required
to alleviate the stress caused by the physiological constraints of close
planting. These biostimulants play a role in enhancing water and nutrient
uptake, vegetative growth, and plant metabolic processes. The aim of the
research was to determine the optimal planting system and frequency of
application of amino acid-based biostimulants to improve the growth and yield
of shallot. The research was designed using a Randomized Complete Block Design
(RCBD) with a one factor comprising six combinations of planting systems (tegel
and jajar legowo) and amino acid biostimulant application frequencies (kontrol,
14 and 28 days after sowing, and 14, 28, and 42 days after planting). The data
were analysed using analysis of variance (ANOVA) with ? = 5%, followed by
Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The results
showed that tegel planting system combined with two applications of an amino
acid biostimulant produced good growth and yield responses in shallots. This is
demonstrated by the development of the root system and leaf surface area, as
well as parameters such as fresh root weight, dry root weight, total dry
weight, fresh bulb weight, dry bulb weight, number of bulbs, bulb diameter and
productivity, which increased by up to 61.33% compared to the raised bed system
without the application of biostimulants.
Kata Kunci : jajar legowo, biostimulan, asam amino