Analisis Diskursus Ekonommi Biru di Asia Tenggara
Fattaa Hayyu Tri Hapsari, Dr. Maharani Hapsari
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Tulisan ini mengkaji formasi diskursus ekonomi biru di Asia Tenggara melalui kerangka analisis Foucault, dengan pendekatan arkeologi dan genealogi. Ekonomi biru, yang dalam satu dekade terakhir menjadi jargon dominan dalam tata kelola laut, diposisikan bukan sebagai konsep teknis yang netral, melainkan sebagai diskursus yang membentuk cara berpikir, berbicara, dan bertindak terhadap laut. Penelitian ini menggunakan analisis konten terhadap dokumen kebijakan, deklarasi regional, dan laporan internasional untuk menelusuri bagaimana objek, subjek, konsep, dan strategi diskursus, beserta teknologi pengaturannya—diproduksi dalam diskursus ekonomi biru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekonomi biru di Asia Tenggara dibangun melalui dua proses utama. Pertama, arkeologi mengungkap bahwa diskursus ini berakar pada pergeseran episteme global yang menghubungkan pembangunan ekonomi dengan keberlanjutan ekologi, sekaligus menyingkirkan rezim pengetahuan lama yang cenderung eksploitatif. Kedua, genealogi menampilkan bagaimana diskursus ini dijalankan melalui konstruksi kehidupan yang baik (the good life), pengaturan level makro melalui biopower dan biopolitics, serta pengaturan level mikro melalui governmentality—yang dilembagakan melalui praktik formal seperti ASEAN Blue Economy Framework, mekanisme monitoring, dan pengawasan berbasis teknologi. Melalui kerangka ini, laut direpresentasikan sebagai ruang ekonomi berkelanjutan, manusia sebagai pengelola ekologis yang rasional, dan teknologi pengaturan sebagai instrumen normalisasi perilaku. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diskursus ekonomi biru tidak sekadar menawarkan solusi pembangunan, tetapi juga menciptakan rezim kebenaran yang mengarahkan perilaku aktor regional. Oleh karena itu, ekonomi biru menjadi perangkat kuasa-pengetahuan yang melegitimasi tata kelola laut sekaligus memperluas logika pembangunan global ke dalam praktik regional di Asia Tenggara
This paper examines the formation of the blue economy discourse in Southeast Asia through Foucault’s analytical framework, employing archaeological and genealogical approaches. Blue economy, which has become the dominant buzzword in ocean governance over the past decade, is positioned not as a neutral technical concept, but as a discourse that shapes the ways we think, speak, and act concerning the ocean. This study employs content analysis of policy documents, regional declarations, and international reports to trace how the objects, subjects, concepts, and strategies of discourse—along with their regulatory technologies—are produced within the blue economy discourse. The findings reveal that the blue economy in Southeast Asia is constructed through two primary processes. First, an archaeological analysis reveals that this discourse is rooted in a global epistemic shift that links economic development with ecological sustainability, while simultaneously displacing older, often exploitative, knowledge regimes. Second, genealogy illustrates how this discourse is implemented through the construction of the good life, macro-level regulation via biopower and biopolitics, and micro-level regulation via governmentality which is institutionalised through formal practices such as the ASEAN Blue Economy Framework, monitoring mechanisms, and technology-based surveillance. Through this framework, the ocean is represented as a space for sustainable economic activity, humans as rational ecological stewards, and regulatory technologies as instruments for normalising behaviour. This study concludes that the blue economy discourse does not merely offer development solutions but also creates a regime of truth that guides the behaviour of regional actors. Therefore, the blue economy serves as an apparatus of power and knowledge that legitimises ocean governance while extending the logic of global development into regional practices in Southeast Asia.
Kata Kunci : ekonomi biru, Asia Tenggara, Foucault, arkeologi, genealogi, diskursus