Pemanfaatan Data LiDAR dan Citra Foto Udara untuk Pemetaan dan Visualisasi 3D Pengaruh Geometri Bangunan terhadap Suhu, Kelembapan, dan Kecepatan Angin di Kecamatan Setiabudi, DKI Jakarta
Ardhillah Eka Nur Faj'ri, Dr. Iswari Nur Hidayati, S.Si., M.Sc.,
2026 | Skripsi | KARTOGRAFI DAN PENGINDRAAN JAUH
Kota terus berkembang dan memicu pertumbuhan perkotaan yang cepat sehingga karakteristik fisik lingkungan berubah. Kecamatan Setiabudi di Jakarta memiliki ketinggian bangunan yang bervariasi, kepadatan bangunan tinggi, dan ruang terbuka hijau (RTH) yang terbatas, sehingga morfologi kotanya berpotensi memengaruhi cuaca secara mikro. Penelitian ini memanfaatkan data penginderaan jauh untuk menganalisis keterkaitan geometri bangunan dengan suhu, kelembapan, dan kecepatan angin di Kecamatan Setiabudi, serta memvisualisasikan geometri bangunan pada model tiga dimensi Level of Detail 1 (LoD1) yang ditampilkan bersama data titik hasil pengukuran cuaca mikro. Data LiDAR dan foto udara digunakan untuk mengekstraksi ketinggian, kepadatan, pola/tata letak, dan persentase tutupan RTH pada 724 blok bangunan. Suhu udara, kelembapan relatif, dan kecepatan angin diukur pada 42 titik sampel pada pagi, siang, dan sore hari, lalu dianalisis dengan korelasi Spearman, regresi linear berganda, dan Moran’s I. Keterkaitan yang ditemukan di Kecamatan Setiabudi bersifat terbatas. Model regresi signifikan hanya untuk suhu harian (R² = 0,413), suhu pagi (R² = 0,244), suhu siang (R² = 0,286), dan kelembapan relatif harian (R² = 0,225). Pola/tata letak memiliki nilai P terbesar pada suhu, namun sulit dipisahkan dari ketinggian bangunan karena keduanya berkorelasi (P = 0,587). Kecepatan angin tidak menunjukkan keterkaitan dengan geometri bangunan, dan residual model sebagian besar berpola acak. Visualisasi tiga dimensi mampu menggambarkan geometri bangunan sebagai dukungan interpretasi kondisi cuaca mikro pada titik pengukuran.
Cities continue to grow, driving rapid urbanization that changes the physical characteristics of the environment. Setiabudi District in Jakarta has varied building heights, high building density, and limited green open space, so its urban morphology may influence the microclimate. This study uses remote sensing data to analyze the relationship between building geometry and air temperature, relative humidity, and wind speed in Setiabudi District, and visualizes building geometry in a three-dimensional Level of Detail 1 (LoD1) model displayed together with point measurements of microclimate. LiDAR and aerial photographs were used to extract building height, density, layout pattern, and green open space coverage across 724 building blocks. Air temperature, relative humidity, and wind speed were measured at 42 sample points in the morning, afternoon, and evening, and analyzed using Spearman correlation, multiple linear regression, and Moran’s I. The relationships found in Setiabudi District are limited. Regression models were significant only for daily temperature (R² = 0.413), morning temperature (R² = 0.244), afternoon temperature (R² = 0.286), and daily relative humidity (R² = 0.225). Layout pattern had the largest P value for temperature, but it is difficult to separate from building height because the two are correlated (P = 0.587). Wind speed showed no relationship with building geometry, and model residuals were mostly randomly distributed. The three-dimensional visualization can depict building geometry to support the interpretation of microclimate conditions at the measurement points.
Kata Kunci : LiDAR, foto udara, geometri bangunan, iklim mikro, visualisasi tiga dimensi