Dinamika Kontestasi Ruang Publik di Trotoar Jalan Persatuan Kabupaten Sleman, Yogyakarta
Ginanjar Putra Wiyanto, Prof. Dr. Suharko, S.Sos., M.Si.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Trotoar di Jalan Persatuan menjadi ruang dimana terjadinya benturan kepentingan dari berbagai aktor. Trotoar jalan yang dibangun untuk memberikan fasilitas untuk pejalan kaki justru diokupasi oleh para pedagang kaki lima dan direproduksi menjadi ruang ekonomi. Praktik sehari-hari dari para pedagang kaki lima dan pengguna trotoar menghasilkan reproduksi ruang yang terus berulang. Dengan perubahan fungsi ruang tersebut memunculkan kontestasi dari berbagai aktor seperti pemerintah daerah, Universitas Gadjah Mada, Pejalan kaki, Pelanggan, dan aktor informal lain. Untuk menjelaskan dinamika tersebut penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data yang dikumpulkan melalui observasi langsung di lokasi, wawancara mendalam dengan masing-masing aktor yaitu Pemerintah (DPUPKP dan Satpol PP Kabupaten Sleman); Pihak UGM, pedagang kaki lima; pejalan kaki; dan pelanggan, dan data pendukung lainnya. Kemudian data dianalisis dan ditarik kesimpulan dengan menggunakan teori dari Lefebvre mengenai produksi ruang dan hak atas kota. Menunjukkan temuan bahwa trotoar di Jalan Persatuan menjadi arena kontestasi yang membenturkan kepentingan dari setiap aktor. Pemerintah yang menginginkan supaya trotoar kembali ke fungsi formal untuk pejalan kaki, justru di lain sisi para pedagang mereproduksi trotoar Jalan Persatuan secara berulang hingga menciptakan ruang ekonomi berupa pusat kuliner, dan UGM sebagai aktor yang berusaha menjaga kebersihan lingkungan kampus, serta pelanggan yang memanfaatkan pedagang sebagai ruang konsumsi dan interaksi sosial. Kontestasi yang terjadi tidak selalu diwujudkan dalam bentuk konflik terbuka, melainkan juga melalui proses negosiasi dan adaptasi dari setiap aktor. Pedagang yang membentuk paguyuban sebagai salah satu cara untuk memudahkan proses komunikasi antar aktor. Hal tersebut menunjukkan bahwa trotoar Jalan Persatuan sebagai ruang publik merupakan hasil proses sosial yang terjadi di dalamnya, seperti praktik sehari-hari, relasi antar pelaku, dan perebutan makna ruang.
The sidewalk on Jalan Persatuan has become a space where conflicting interests among various actors emerge. The sidewalk, originally built to provide facilities for pedestrians, has instead been occupied by street vendors and reproduced into an economic space. The daily practices of these street vendors and sidewalk users result in a continuous reproduction of space. This shift in spatial function gives rise to contestation among various actors, including the local government, Universitas Gadjah Mada (UGM), pedestrians, customers, and other informal actors.
To explain these dynamics, this study employs a qualitative approach with a descriptive method. Data was collected through direct on-site observation, in-depth interviews with each key actor—namely the government (DPUPKP and Sleman Regency Public Order Agency/Satpol PP), UGM representatives, street vendors, pedestrians, and customers—as well as supporting data. The data was then analyzed and conclusions were drawn using Henri Lefebvre’s theories on the production of space and the right to the city.
The findings indicate that the sidewalk on Jalan Persatuan serves as an arena of contestation, pitting the interests of different actors against one another. While the government aims to restore the sidewalk to its formal function for pedestrians, the vendors repeatedly reproduce the space into an economic realm operating as a culinary center. Meanwhile, UGM acts as an entity striving to maintain the cleanliness and order of the campus environment, and customers utilize the vendors as a space for consumption and social interaction.
This contestation does not always manifest as open conflict; rather, it also occurs through processes of negotiation and adaptation among the actors. The vendors, for instance, formed an association (paguyuban) as a means to facilitate communication with other stakeholders. Ultimately, this demonstrates that the Jalan Persatuan sidewalk as a public space is the product of ongoing social processes, including daily practices, relationships among actors, and the struggle over spatial meaning.
Kata Kunci : Kontestasi Ruang, Ruang Publik, Trotoar, Pedagang Kaki Lima, Produksi Ruang