Proses internalisasi nilai-nilai budaya dalam kaitannya dengan hubungan seksual pra-nikah pada remaja Bugis-Bone di Makassar
RESMIWATY, Dra. Atik Triratnawati, MA
2005 | Tesis | S2 AntropologiMaraknya berbagai kasus seks bebas dan kriminalitas di seputar kehidupan remaja belakangan ini semakin banyak menarik perhatian. Kasus-kasus tersebut di antaranya disebabkan oleh semakin maraknya pula media massa. Media tersebut tidak hanya menyajikan mengenai perkembangan pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mengenai seksualitas. Untuk itu tulisan ini akan mengkaji mengenai beberapa hal berkaitan dengan masalah seksualitas di kalangan remaja Bugis-Bone di Makassar, yakni: bagaimana proses interalisasi nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan hubungan seksual pra-nikah yang diterapkan pada remaja Bugis-Bone di Makassar; siapa dan apa saja yang terlibat dalam proses internalisasi tersebut; dan bagaimana remaja Bugis-Bone di Makassar menginterpretasikan internalisasi nilainilai budaya tersebut. Penelitian mengenai proses internalisasi nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan hubungan seksual pra-nikah pada remaja Bugis-Bone ini dilaksanakan pada Bulan Juni hingga Juli 2004, di kota Makassar Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan metode pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Para informan adalah orang tua, remaja, saudara, dan temanteman dari remaja yang bersangkutan, dari lima keluarga yang bertempat tinggal di wilayah yang berbeda di Makassar. Proses internalisasi nilai-nilai budaya tersebut berlangsung dalam keluarga dan di lingkungan masyarakat. Dalam keluarga yang berperan adalah orang tua, saudara, kerabat dekat, dan teman-teman sepergaulan remaja. Sedangkan di lingkungan masyarakat yang berperan adalah norma seksual yang tertuang dalam Pangaderreng, siri’ na pesse’, dan ade’ di mana penerapannya masih dilaksanakan hingga saat ini. Pengetahuan seksual itu berupa pantangan dan mitos, serta sejumlah aturan yang diterapkan oleh orang tua yang bagi remaja dianggap tidak relevan lagi dengan keadaan sekarang. Oleh karena itu para remaja tidak menganggapnya sebagai pendidikan seks. Namun demikian pelaksanaan ade’ yang mencerminkan â€orang Bone yang sesungguhnya†masih tetap dilaksanakan oleh remaja, sebab hal tersebutlah yang dapat mempertahankan harkat, martabat, dan nama baik pribadi dan keluarga. Internalisasi nilai-nilai budaya tersebut diturunkan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Bugis-Bone terutama yang bertempat tingal di Makassar, norma seksual diwariskan melalui adat siri' na pesse' dan pangaderreng, serta ade’ yang masih berlaku hingga saat ini. Para orang tua menuntut anak-anaknya agar menghindari berbagai hal yang memungkinkan jatuhnya siri' keluarga. Anak-anak dituntut agar senantiasa bersikap baik, sopan, menjaga tutur kata, dan penampilan, serta menerapkan nilai-nilai keagamaan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
For recent time, the glow of various free-sex and criminality cases around adolescent is more getting attention. For some cases, they are caused by the glow of mass media. Those media do not only provide about the growth of knowledge and technology but also provide information about sexuality. For that reason, this script will be explored about some cases that linked to sexuality problems, especially Bugis-Bone adolescent at Makassar. The problem is how is the internalization process of pre-married sexual relation to the adolescent of Bugis-Bone in Makassar; Who are and what are, everyone and everything get participant in the process of internalization; and how the interpretation of the adolescent of Bugis-Bone towards the internalization. This research is about internalization process of pre-married sexual relation among the Bugis-Bone adolescents, it implemented at June to July 2004, in Makassar South Sulawesi. The used research method is qualitative through observation, interview, and documentation. Informers are parents, adolescents, relatives, and companions of adolescents, from five families that placed at different territory in Makassar. The internalization process of cultural values has been preparing at family and at society environment. At family, parents, sisters and brothers, and relatives have responsibility for the matter, and adolescent companions also. At society environment, which have responsibility for sexual norm that has been stated at Pangaderreng, siri’ na pesse’, and ade’ that always for their implementation is still going on until recent time. Sexual knowledge which adolescent get are prohibition and myth, and some regulations from their parents, for adolescent, they are not relevant anymore. Because of that adolescent do not pay them attention as sexual education. But implementation of ade’ that figured “the real Boneâ€, has been still implemented, it could maintain status, prestige, and personal and family valences. The internalization is inherited from generation to generation. The community of Bugis-Bone in particular, who live in Makassar, the sexual norms are inherited through a custom called siri' na pesse' and pangaderreng, as well as ade' that are now still being in use of the community. Parents demanded that their children avoid aspects that can humiliate the family. Young children in particular, are urged to behave in polite way and maintain good attitude. Parents also give religious values in order the children can apply them in their daily activities.
Kata Kunci : Internalisasi, Nilai-nilai Budaya, Remaja, Bugis-Bone, Internalization Process, Cultural Values, Adolescent