Laporkan Masalah

Resistensi Sipil di Ruang Hampa Fungsional Negara: Tafsir Bersama atas Kerentanan dalam Transformative Dissent Gerakan Nasi Darurat Jogja

Muhammad Itqon Al-wafa, Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, S.I.P., M.A.

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Kerentanan pangan situasional pasca-pandemi tersebar di banyak kota di Indonesia, tetapi kondisi struktural yang serupa jarang melahirkan aksi kolektif yang bertahan. Kesenjangan ini memunculkan teka-teki: mekanisme sosial apa yang menjembatani ruang hampa fungsional negara dengan lahirnya praktik politik alternatif? Penelitian ini mengkaji gerakan Nasi Darurat Jogja (Nasdar) yang beroperasi di Yogyakarta sejak 2023. Mengikuti logika studi kasus George dan Bennett (2005) serta penelusuran proses, penelitian menggunakan desain kasus tunggal tertanam dengan sebelas narasumber pada empat subunit, ditriangulasi dengan observasi partisipatif dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan negara tidak absen ataupun runtuh, melainkan terlambat dan selektif, sehingga terbentuk ruang hampa fungsional yang paling menekan kelompok rentan situasional yang tidak terbaca data administratif. Yang mengubah ruang hampa itu menjadi aksi kolektif bukanlah kerentanan bersama, melainkan tafsir bersama atas kerentanan, yang terbentuk melalui tiga saluran: pengalaman langsung, perjumpaan berulang di titik distribusi, dan interaksi harian yang intensif. Tafsir tersebut dilembagakan menjadi aturan main yang membentuk transformative dissent. Penelitian ini melengkapi kerangka tersebut dengan mekanisme sosial yang selama ini luput, sekaligus menunjukkan bahwa negosiasi dengan negara dapat berbentuk benign neglect dan suplementaritas non-afiliatif.

Post-pandemic situational food insecurity is widespread across Indonesian cities, yet similar structural conditions rarely generate durable collective action. This raises a puzzle: what social mechanism bridges a functional state vacuum and the emergence of alternative political practice? This study examines Nasi Darurat Jogja (Nasdar), a grassroots food redistribution movement operating in Yogyakarta since 2023. Following George and Bennett's (2005) case-study logic and process tracing, it employs a single-case embedded design covering eleven informants across four subunits, triangulated with participant observation and document analysis. The state is found to be neither absent nor collapsed but late and selective, producing a functional vacuum that falls hardest on situationally vulnerable populations invisible to administrative data. What converts this vacuum into collective action, however, is not shared vulnerability but a shared interpretation of vulnerability, generated through three channels: direct experience, repeated encounters at distribution points, and intensive daily interaction. That interpretation is institutionalised into organisational rules constituting transformative dissent. The study supplies the framework with a missing social mechanism and shows that negotiation with the state may take the form of benign neglect and non-affiliative supplementarity rather than explicit autonomia.

Kata Kunci : transformative dissent, tafsir bersama atas kerentanan, ruang hampa fungsional negara, solidaritas organik, redistribusi pangan

  1. S1-2026-493073-abstract.pdf  
  2. S1-2026-493073-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-493073-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-493073-title.pdf