Penelitian ini mengkaji proses deeskalasi Ketegangan Komunal Penyepian Loloan 2025 di Kabupaten Jembrana, sebuah kawasan berpenduduk mayoritas Muslim di tengah Provinsi Bali yang mayoritas Hindu. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana proses peredaan konflik tersebut berlangsung beserta peran para aktornya, serta bagaimana nilai kearifan lokal Menyama Braya dimobilisasi sebagai modal sosial untuk meredakan ketegangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap tujuh informan kunci, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Teori utama yang digunakan adalah konsep modal sosial dari Putnam, didukung konsep deeskalasi konflik dan perspektif relasi negara dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deeskalasi berlangsung melalui peran aktor yang saling melengkapi, yaitu negara yang memilih menahan diri dan berkoordinasi di balik layar, tokoh adat yang menenangkan komunitasnya, FKUB yang memfasilitasi mediasi secara setara, serta tokoh Muslim yang menjaga ketenangan warganya. Menyama Braya bekerja sebagai bridging social capital yang telah lama tersedia dan dimobilisasi menjadi bahasa bersama, sehingga peredaan berlangsung cepat dan tanpa kekerasan. Akan tetapi, penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan tersebut bersifat meredakan, bukan menyelesaikan, karena belum menyentuh akar persoalan yang bersifat struktural. Penelitian merekomendasikan pelembagaan forum dialog dan penataan kelembagaan agar peredaan konflik dapat berkembang menjadi kerukunan yang lebih tahan lama.