Laporkan Masalah

Modal Sosial dan Kearifan Lokal Dalam Deeskalasi Konflik Komunal : Peran Nilai Menyama Braya Dalam Meredakan Ketegangan Penyepian Loloan 2025 di Kabupaten Jembrana

Ragiel Putra Nuswantoro, Hasrul Hanif, S.I.P., M.A., Ph.D

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini mengkaji proses deeskalasi Ketegangan Komunal Penyepian Loloan 2025 di Kabupaten Jembrana, sebuah kawasan berpenduduk mayoritas Muslim di tengah Provinsi Bali yang mayoritas Hindu. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana proses peredaan konflik tersebut berlangsung beserta peran para aktornya, serta bagaimana nilai kearifan lokal Menyama Braya dimobilisasi sebagai modal sosial untuk meredakan ketegangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap tujuh informan kunci, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Teori utama yang digunakan adalah konsep modal sosial dari Putnam, didukung konsep deeskalasi konflik dan perspektif relasi negara dan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deeskalasi berlangsung melalui peran aktor yang saling melengkapi, yaitu negara yang memilih menahan diri dan berkoordinasi di balik layar, tokoh adat yang menenangkan komunitasnya, FKUB yang memfasilitasi mediasi secara setara, serta tokoh Muslim yang menjaga ketenangan warganya. Menyama Braya bekerja sebagai bridging social capital yang telah lama tersedia dan dimobilisasi menjadi bahasa bersama, sehingga peredaan berlangsung cepat dan tanpa kekerasan. Akan tetapi, penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan tersebut bersifat meredakan, bukan menyelesaikan, karena belum menyentuh akar persoalan yang bersifat struktural. Penelitian merekomendasikan pelembagaan forum dialog dan penataan kelembagaan agar peredaan konflik dapat berkembang menjadi kerukunan yang lebih tahan lama.

This study examines the de-escalation of the 2025 Loloan Nyepi communal tension in Jembrana Regency, a predominantly Muslim enclave within the predominantly Hindu province of Bali. It aims to explain how the de-escalation process unfolded and the roles of the actors involved, as well as how the local wisdom value of Menyama Braya was mobilized as social capital to ease the tension. The study employs a qualitative case-study approach. Data were collected through interviews with seven key informants, observation, and documentation, and were analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The main theory applied is Putnam’s concept of social capital, supported by the concept of conflict de-escalation and the state-in-society perspective. The findings show that de-escalation occurred through complementary actor roles: the state restrained itself and coordinated behind the scenes, customary leaders calmed their own community, the Interfaith Communication Forum (FKUB) facilitated an equal mediation, and Muslim leaders maintained calm among their congregation. Menyama Braya functioned as a long-available bridging social capital that was mobilized as a shared language, enabling a rapid and non-violent de-escalation. However, this study finds that the success was a matter of easing rather than resolving the conflict, as it left the structural roots untouched. The study recommends institutionalizing dialogue forums and strengthening institutional arrangements so that de-escalation may grow into a more durable harmony.

Kata Kunci : Deeskalasi konflik, modal sosial, Menyama Braya, kearifan lokal, kerukunan umat beragama, Loloan

  1. S1-2026-443224-abstract.pdf  
  2. S1-2026-443224-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-443224-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-443224-title.pdf