Konstruksi kebijakan keamanan India era 1990-an dan implikasinya pada dinamika keamanan di Asia Selatan dalam perspektif konstruktivisme
SUNARKO, Bagus Sigit, Dr. Nanang Pamuji Mugasejati
2005 | Tesis | S2 Ilmu PolitikSampai saat ini, kajian kebijakan keamanan di India maupun di negara-negara lainnya masih didominasi oleh asumsi-asumsi yang dikembangkan kaum realis. Kebijakan keamanan dalam konteks ini secara simplistis, dianggap tidak lebih dari sekedar produk negara. Sedangkan pada lingkup regional, kajian dengan tema ini hampir selalu terjebak dalam cara pandang neo-realisme yang menyatakan bahwa sistem secara otomatis akan menjadi pengatur, pembatas dan pengontrol negara. Dengan demikian pola keamanan regional misalnya, dianggap sebagai sesuatu yang given dan negara -apalagi individu maupun kelompok di suatu negaradianggaptidak akan mungkin bisa mengubahnya. Berseberangan dengan cara pandang tersebut, konstruktivisme justru menekankan peran penting ide para aktor dalam konstruksi kebijakan keamanan dan menegaskan bahwa pola keamanan regional pada dasarnya sebuah konstruksi sosial. Berdasar asumsi ini, kebijakan keamanan India tentunya dihasilkan oleh para elit yang berpengaruh di pemerintahan. Sehingga proses ditetapkannya kebijakan keamanan India dari awal hingga akhir dipastikan akan melalui persaingan ide dari para aktor yang terlibat didalam perumusannya. Sementara pada lingkup regional, dinamika keamanan yang berlangsung merupakan refleksi dari interaksi gagasan keamanan para aktor di masing-masing negara dan pada akhirnya bermuara pada suatu pola keamanan regional Asia Selatan. Konstruksi kebijakan keamanan India melibatkan tiga aktor kunci yang terdiri dari, kelompok nasionalis India, kelompok nasionalis Hindu dan kelompok militer. Aktor pertama menetapkan sumber ancaman keamanan terhadap India berasal dari gerakan anti sekulerisme. Aktor kedua beranggapan bahwa ancaman keamanan yang akan membahayakan eksistensi negara-bangsa India berasal dari kelompok non-Hindu, terutama Islam. Aktor ketiga berkeyakinan bahwa ancaman mendasar bagi India terutama berasal dari negara tetangga yang memiliki kapabilitas senjata lebih unggul dibandingkan negaranya. Pada level regional, dinamika keamanan yang berlangsung sangat dipengaruhi oleh persepsi ancaman keamanan yang dikembangkan para aktor di India maupun di negara tetangga secara timbal-balik. Secara umum bisa dikatakan, selama era 1990an dinamika keamanan regional Asia Selatan lebih didominasi oleh hubungan antar negara yang bersifat permusuhan daripada persahabatan. Konstruktivisme, dengan demikian, menawarkan penjelasan yang lebih memadai dan memuaskan jika dibandingkan realis yang cenderung menempatkan ide, individu atau kelompok, serta proses terjadinya sesuatu, sebagai hal yang tidak perlu diperhatikan. Kajian kebijakan keamanan menjadi lebih menarik karena konstruktivisme memberikan penjelasan relatif lebih detail dan menghindarkan kita dari upaya simplifikasi terhadap sebuah fenomena.
So far, many examination of security policies both in India and other countries are dominated by realist assumptions. Security policies in this assumption are simplified as a state product. In a regional context, neo-realism dominates the explanation of policies’ formulation by arguing that a regional system will automatically limit, organize and control state’s activities. As such, regional security pattern is accepted as given and the state as well as individual and groups within state, will not be able to change the pattern. The above views under estimate the important roles of individuals and groups in formulating policies. In some cases, the role of ideas utilized and promoted by these actors is very important in constructing security policies. A regional pattern, in this view, is basically a social construction. By following this approach which is commonly called as constructivism, Indian security policy is seen as a product of influential ideas promoted by elites within the government. The process, by which the security policies are made, is through interaction and conflict of ideas among these actors. Mean while in regional context, security dynamics reflect interactions of security ideas promoted by actors in each state. This process finally produces a regional security pattern in South Asia. In India, the construction of security policies involves three key actors namely the Indian nationalist, the Hindu nationalist, and the military. The Indian nationalist believe that the sources of threat to security come from anti-secularism movements. The Hindu nationalist argues that the threat to India security comes from within particularly from Islamic groups. The last actor sees that the basic threat to Indian comes from neighboring countries, which have superior military capability than India. In a regional level, the security dynamics are very much influenced by the perceptions of threats developing by actors in India and other countries in the region. In general, it can be stated that the main dynamics of South Asian security in 1990s is dominated by enmity than by amity. As such, constructivism offers more sophisticated explanation to security formulation than the realist which tends to ignore the role of ideas, individuals and groups in policy formulation. In contrast, constructivism, by including all these elements, offers a more detailed explanation and avoids an explanation that can simplify a phenomenon.
Kata Kunci : India,Kebijakan Keamanan,1990,Konstruktivisme