Macapat Rabu Pahingan di Gereja Maria Assumta Pakem Sleman Yogyakarta
MARIDJA, Yohanes Bosco, Prof.Dr. R.M. Soedarsono
2005 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaPenelitian berjudul MACAPAT RABU PAHINGAN di GEREJA MARIA ASSUMPTA PAKEM SLEMAN YOGYAKARTA : SEBUAH HASIL INKULTURASI GEREJA ini mengangkat masalah–masalah : (1) kapan kegiatan itu dimulai; (2) mengapa kegiatan itu terlaksana; (3) bagaimana pelaksanaannya. Berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui asal–usul macapat Rabu Pahingan, faktor–faktor yang menunjang, dan mendeskripsikan pelaksanaannya. Untuk dapat mengungkapkan permasalahan itu digunakan pendekatan multidisipliner. Disiplin sejarah diperlukan untuk dapat mengungkapkan asal–usul kegiatan macapat tersebut. Demikian pula disiplin antropologi budaya, filsafat, agama, dan lain sebagainya digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan data. Data diperoleh dengan cara wawancara, rekaman foto dan CD, serta kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Macapat Rabu Pahingan tidak dapat dipisahkan dengan peziarahan rohani (laku prihatin) yang dilakukan oleh Pastur G.P. Sindhunata, S.J. dengan beberapa umat Katholik Pakem. Sementara peziarahan dilakukan beberapa umat sekitar paroki mulai menggali Sumur Kitiran Kencana. Sebagai genre sastra metrum macapat yang ada dalam buku Sumur Kitiran Kencana tetap mematuhi norma umum tembang macapat seperti : guru gatra, guru wilangan, guru lagu, dan watak tembang. Sebagai seni pertunjukan resitasi kegiatan macapat dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon berupa tirakatan atau wungon dengan menyanyikan metrum–metrum macapat. Semakin banyaknya umat yang memanfaatkan air sumur tersebut maka digalilah sumur duplikat di samping sumur asli. Pada 14 Oktober 1998 sumur duplikat diresmikan. Sejak itu setiap malam Rabu Pahing diadakan kegiatan untuk menghormati Bunda Maria yang dikenal dengan Macapat Rabu Pahingan. Kegiatan tersebut tetap berlangsung sampai sekarang dan kegiatan tersebut merupakan kegiatan ritual yang tetap memperhatikan tempat, waktu, peserta, dan kebiasaan setempat, serta benda – benda simbolis dengan pemaknaan baru sesuai dengan ajaran Gereja. Oleh karena itulah Macapat Rabu Pahingan merupakan hasil inkulturasi Gereja. Penyelenggaraan kegiatan itu kemudian diatur secara bergilir sesuai dengan jumlah wilayah yang ada di Paroki Pakem dan setiap wilayah diberi kebebasan untuk mengemas acara dan kegiatan itu sampai sekarang tetap populer dengan sebutan Macapat Rabu Pahingan.
Research entitle the Macapat Rabu Pahingan at Maria Assumpta Church, Pakem, Sleman, Yogyakarta : A Result of Church Inculturation tries to investigate the following issues : ( 1) When did that activity begin?, ( 2) Why did it happen?, and ( 3) How had it been carried out? The objectives of the research are to find out the origin of Macapat Rabu Pahingan, to indentify its supporting factors, and to describe how the activity has been caried out. A multidisciplinary approach is applied in the research. A historical reviews is necessitated to elaborate the origin of the macapat activities. Other reviews including cultural anthropology, philosophy, religion, and the like are needed to analyze and interpret data. The data were gathered through interviews, photographs, and compact disc record, and library studies. The result of the research shows that Macapat Rabu Pahingan cannot be separated from the spiritual pilgrimage (laku prihatin) done by Priest G.P. Sindhunata, S.J. and a number of Catholic followers in Pakem. As the pilgrimage started people from parochial surrounding started to dig the well. As literary genre, the metre of the macapat to be found in Sumur Kitiran Kencana follows the common norms of tembang macapat such as guru gatra, guru wilangan, guru lagu, and tembang’s characteristics. As a art of recitation, macapat activity is performance every Selasa Kliwon evening in the form of reflection or wungon by singing macapat verses from Sumur Kitiran Kencana after the original Sumur Kitiran Kencana was afficiated at the end of 1985. Since the demand of the wells is higly increasing, on October, 14, 1998 a duplicate of the well was afficiated. Since then, every Rabu Pahing evening an activity to honour Mother Maria which is more popularly referred to as Macapat Rabu Pahingan has been conducted. The activity has continued to present time, participant, customs, and symbolic object under new significance in line with the teaching of the Church. The performance of such an activity is done regularly in a sequence of location under Pakem parish and each of the locations is given a freedom to arrange the programs and conduct the activity which is, up to the present time, still popular under the name of Macapat Rabu Pahingan.
Kata Kunci : Tembang Macapat, Inkulturasi Gereja