Laporkan Masalah

Interferensi Leksikal dalam Tuturan Berbahasa Indonesia Penutur Frankofon di Platform TikTok

R. A. Haru Veda Gautama, Dr. Hayatul Cholsy, M.Hum.

2026 | Skripsi | SASTRA PERANCIS

Penelitian ini mengkaji bentuk interferensi leksikal dan mengidentifikasi faktor yang memengaruhi dalam tuturan berbahasa Indonesia penutur Frankofon di TikTok menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data berupa tuturan spontan dalam 22 video pendek yang diunggah oleh dua penutur Frankofon pada tahun 2023 hingga 2025. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, kemudian dianalisis menggunakan teori interferensi leksikal Weinreich (1953) yang dilengkapi teori kelas kata bahasa Indonesia Kridalaksana (1986) dan kelas kata bahasa Prancis Riegel, Pellat, dan Rioul (2009), dengan makna leksikal dirujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Le Robert. Hasil menunjukkan bahwa interferensi leksikal terjadi pada kelas kata sebesar 78,38?n pada frasa sebesar 21,62%. Interferensi pada kelas kata diklasifikasikan menjadi tiga bentuk, yaitu perbedaan konseptualisasi makna leksem bahasa Prancis dan bahasa Indonesia sebesar 68,97%, penerjemahan leksem secara literal sebesar 17,24%, dan penerjemahan partikel secara literal sebesar 13,79%, sedangkan interferensi pada frasa seluruhnya berupa penerjemahan model frasa secara harfiah dari bahasa Prancis. Interferensi tersebut dipengaruhi oleh faktor linguistic serta faktor nonlinguistik.

This study aims to describe the forms of lexical interference and to identify the factors that influence it in the spoken Indonesian of Francophone speakers on TikTok, using descriptive qualitative approach, drawing on spontaneous speech from 22 short videos uploaded by two Francophone speakers between 2023 and 2025. The data were collected using the listening and note-taking technique and analyzed using Weinreich's (1953) theory of lexical interference, complemented by Kridalaksana's (1986) theory of Indonesian word classes and Riegel, Pellat, and Rioul's (2009) account of French word classes, with lexical meanings verified against the Kamus Besar Bahasa Indonesia and Le Robert. The findings show that lexical interference occurs at the level of simple words (78.38%) and phrases (21.62%). Interference in simple words falls into three forms: differences in the conceptualization of lexeme meaning between French and Indonesian (68.97%), literal translation of lexemes (17.24%), and literal translation of particles (13.79%), whereas interference in phrases consists entirely of the literal translation of French phrase models. This interference is influenced by linguistic factors and non-linguistic factors.

Kata Kunci : interferensi leksikal, konseptualisasi makna, penutur Frankofon, bahasa Indonesia, TikTok

  1. S1-2026-494215-abstract.pdf  
  2. S1-2026-494215-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-494215-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-494215-title.pdf