Rancang Bangun dan Pengujian Alat Pemetik Senar Bundengan Berbasis Mekanisme Plectrum pada Harpsichord
Ade Hasya Yustiawan, Dr. Indraswari Kusumaningtyas, S.T., M.Sc.
2026 | Skripsi | TEKNIK MESIN
Bundengan
merupakan alat musik tradisional dari Wonosobo, Jawa Tengah, dengan resonator
berbentuk perisai yang disebut kowangan. Di dalam kowangan terpasang beberapa
senar yang berfungsi mengimitasi bunyi gamelan berbahan logam seperti kenong
dan gong. Penelitian mengenai karakterisasi fisis bundengan, khususnya pada
proses pemetikan senar, memerlukan input eksitasi yang terukur. Namun,
pemberian eksitasi selama ini masih mengandalkan petikan jari pemain yang sulit
mencapai konsistensi pada setiap pengulangan, sehingga dapat menghasilkan
respons senar yang berbeda-beda antar-pengujian. Oleh karena itu, diperlukan
rancang bangun alat pemetik senar mekanis portabel dengan mengadaptasi
mekanisme plectrum pada instrumen harpsichord, yang terbukti
mampu menghasilkan eksitasi petikan dengan tingkat konsistensi bunyi yang
tinggi.
Komponen
utama, material, dan dimensi mekanisme plectrum harpsichord
dipertahankan semirip mungkin dengan aslinya untuk memperkecil
variabel-variabel bebas yang dapat membedakan hasil eksitasi, dengan komponen
struktural dimanufaktur dari material Polylactic Acid (PLA) menggunakan
teknologi 3D printing sebagai pengganti kayu, sementara karakteristik
massa jenis dan kekakuan tetap dirancang semirip mungkin dengan material asli.
Purwarupa juga dimodifikasi agar kompatibel dengan instrumen bundengan, yaitu
dengan mengubah arah gerak plectrum dari vertikal ke atas menjadi gerak
menarik secara horizontal, menyesuaikan susunan senar bundengan yang berjejer
vertikal di dalam kowangan. Alat ditopang oleh sebuah microphone stand
yang berfungsi sebagai sistem penopang sekaligus pengatur posisi, sehingga
purwarupa bersifat portabel. Performa alat kemudian dievaluasi melalui uji
pemetikan pada senar bundengan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat pemetik senar bundengan ini mampu menghasilkan eksitasi petikan berulang dengan tingkat presisi yang tinggi. Frekuensi fundamental hasil pemetikan pada sepuluh kali pengulangan menunjukkan nilai yang seragam pada masing-masing senar. Rentang selisih nilai Tingkat Tekanan Bunyi (TTB) antar-pengulangan untuk setiap senar berada kurang dari 3 dB, sedangkan tingkat bunyi latar (background noise) berada lebih dari 10 dB di bawah tingkat bunyi hasil pemetikan sehingga pengaruhnya dapat diabaikan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa alat yang dirancang mampu menghasilkan petikan secara berulang dengan tingkat presisi eksitasi yang konsisten pada kelima senar, sesuai dengan persyaratan desain yang telah ditetapkan.
Bundengan
is a traditional musical instrument from Wonosobo, Central Java, with a
shield-shaped resonator called a kowangan. Inside the kowangan, several strings
are mounted to imitate the sound of metal gamelan instruments such as the
kenong and gong. Research on the physical characterization of the bundengan,
particularly on the string-plucking process, requires a measurable excitation
input. However, excitation has so far relied on manual plucking by the player's
finger, which is difficult to reproduce consistently, resulting in varying
string responses across trials. Therefore, a portable mechanical
string-plucking device that designed by adapting the plectrum mechanism found
in the harpsichord, which has been proven to produce plucking excitation with a
high degree of sound consistency.
The
main components, materials, and dimensions of the harpsichord plectrum
mechanism (including the key, jack, tongue, plectrum, and damper) were kept as
close as possible to the original instrument in order to minimize free
variables that could alter the excitation outcome, with the structural
components manufactured from Polylactic Acid (PLA) using 3D printing technology
as a substitute for wood, while the density and stiffness characteristics were
still designed to closely resemble the original material. The prototype was
also modified to be compatible with the bundengan instrument by changing the
plectrum's direction of motion from an upward vertical pluck to a horizontal
pulling motion, in accordance with the vertical arrangement of the bundengan's
strings inside the kowangan. The device is supported by a microphone stand,
which functions as both the supporting structure and the position adjuster,
making the prototype portable. The device's performance was then evaluated
through string-plucking tests on the bundengan.
The results show that this string-plucking device is capable of producing repeated plucking excitation with a high degree of precision. The fundamental frequency of the plucking results across ten repetitions showed uniform values for each string. The range of differences in Sound Pressure Level (SPL) values across repetitions for each string was less than 3 dB, while the background noise level was more than 10 dB below the sound level produced by the plucking, making its influence negligible. Based on these results, it can be concluded that the designed device is able to produce repeated plucking with a consistent level of excitation precision across all five strings, in accordance with the design requirements that were established.
Kata Kunci : Bundengan, rancang bangun, alat pemetik senar, plectrum harpsichord, frekuensi, tingkat tekanan bunyi.