Kerentanan Struktural Nelayan: Studi atas Relasi Patron-Klien dan Peran Negara di Kawasan PPP Sadeng, Gunungkidul, DIY
Puang Maharani, Dr. M. Falikul Isbah, G.D.Soc., M.A.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian
ini mengkaji kerentanan struktural yang dialami kelompok nelayan di kawasan
Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng, Gunungkidul, DIY. Fokus utama yang
diangkat ialah menelisik bagaimana relasi patron-klien di
antara tengkulak, pemilik kapal/juragan, dan nelayan buruh, serta peran negara
yang belum mampu menjawab kebutuhan nelayan, secara bersama-sama memproduksi
dan melanggengkan kerentanan struktural nelayan secara kontinuitas. Kerentanan yang dimaksud
bukan sekadar ketidakpastian penghasilan, melainkan kondisi ketidakberdayaan
struktural yang muncul dari ketergantungan ekonomi, hambatan mobilitas sosial,
dan peran negara yang belum mampu memberikan perlindungan secara optimal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus
(Yin, 2003; Creswell, 2014). Informan dipilih secara purposif, mencakup pemilik
kapal, nelayan buruh, tengkulak, dan pengurus kelompok usaha bersama (KUB).
Selanjutnya, penelitian ini menggunakan kerangka moral ekonomi Scott (1976,
1972), khususnya konsep relasi patron-klien sebagai pisau analisis utama untuk
memahami struktur ketergantungan dan mekanisme pengikat dalam kelompok nelayan,
serta konsep ekonomi politik untuk melihat peran negara sebagai kelembagaan
yang melingkupi penghidupan kelompok nelayan. Temuan penelitian menunjukkan
bahwa relasi patron-klien di Sadeng bersifat berlapis dan situasional, di mana
satu aktor dapat menempati lebih dari satu posisi sekaligus serta mengendalikan
secara simultan akses terhadap alat produksi, jalur distribusi hasil tangkap,
serta pintu masuk program bantuan negara melalui penguasaan lembaga formal
seperti kelompok usaha bersama. Kondisi semacam ini menutup ruang gerak nelayan
buruh dan sebagian pemilik kapal, untuk keluar dari hubungan ketergantungan.
Pada saat yang sama, negara yang semestinya menavigasi kerentanan nelayan
justru turut melanggengkan kerentanan tersebut yang tercermin dari ambiguitas
regulasi, distribusi bantuan yang tidak merata, serta terbatasnya akses
terhadap perlindungan sosial dan permodalan. Hal tersebut tidak hanya
melanggengkan relasi patron-klien, tetapi secara aktif memperkuat posisi patron
sebagai satu-satunya institusi fungsional yang dapat diandalkan nelayan. Kedua
kondisi ini saling menopang dan membentuk lingkaran reproduksi kerentanan yang
sulit diputus dari dalam kelompok itu sendiri.
This study examines the structural
vulnerability experienced by fishing communities in the Sadeng Coastal Fishing
Port (PPP Sadeng) area, Gunungkidul, Special Region of Yogyakarta. Its main
focus is to investigate how patron-client relations among middlemen
(tengkulak), boat owners (juragan), and hired fishermen, together with the
state's inability to respond to fishermen's needs, jointly produce and
perpetuate fishermen's structural vulnerability on a continuing basis. The
vulnerability in question is not merely income uncertainty, but a condition of
structural powerlessness arising from economic dependence, barriers to social
mobility, and a state that has not been able to provide optimal protection.
This study employs a qualitative approach with a case study design (Yin, 2003;
Creswell, 2014). Informants were selected purposively and include boat owners,
hired fishermen, middlemen, and officers of joint business groups (Kelompok Usaha
Bersama, KUB). The study draws on Scott's (1976, 1972) moral economy framework,
particularly the concept of patron-client relations, as its main analytical
lens for understanding the structures of dependence and the binding mechanisms
within the fishing community, and on the concept of political economy to
examine the role of the state as the institutional setting that encompasses
fishermen's livelihoods. The findings show that patron-client relations in
Sadeng are layered and situational: a single actor may occupy more than one
position at once and simultaneously control access to the means of production,
the distribution channels for catches, and the entry points to state assistance
programs through control of formal institutions such as KUBs. This closes off
room for hired fishermen, and some boat owners, to escape relations of
dependence. At the same time, the state, which ought to help fishermen navigate
their vulnerability, instead helps perpetuate it, as reflected in regulatory
ambiguity, uneven distribution of aid, and limited access to social protection
and capital. This not only sustains patron-client relations but actively
strengthens the patron's position as the only functional institution that
fishermen can rely on. These two conditions reinforce one another and form a
cycle of reproducing vulnerability that is difficult to break from within the
group itself.
Kata Kunci : nelayan, kerentanan struktural, patron-klien, keterbatasan negara, PPP