Laporkan Masalah

Pemetaan kerentanan banjir dengan pendekatan Geomorfologi :: Studi kasus di Kota Kendari

RADIALLAH, Dr. M. Pramono Hadi, M.Sc

2005 | Tesis | S2 Geografi

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi satuan bentuklahan Kota Kendari, mengetahui faktor-faktor penyebab banjirnya, serta menyajikannya dalam peta kerentanan banjir. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan geomorfologi khususnya pendekatan morfogenesa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan melakukan beberapa tahapan: Pertama, menginterpretasi satuan bentuklahan dengan memanfaatkan citra foto udara pankromatik hitam putih secara manual yang dibantu dengan data lapangan. Kedua, menumpangsusunkan peta geomorfologi, peta kemiringan lereng, peta penggunaan lahan, peta tanah dan peta geologi yang telah diberi harkat sesuai dengan dukungannya terhadap banjir. Ketiga, mengklasifikasikan sesuai dengan skor total yang diperoleh dari masingmasing satuan lahan. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Terdapat 9 satuan bentuklahan yang ada di daerah penelitian yaitu: perbukitan terkikis ringan (D1), perbukitan terkikis sedang (D2), dataran aluvial (F1), dataran banjir (F7), rawa belakang (F5), dataran aluvial pantai tawar (M11), dataran aluvial pantai payau (M12), dataran aluvial pantai tergenang (M13) dan rataan pasang surut (M1). (2) daerah penelitian dapat dibagi menjadi lima kelas kerentanan banjir yaitu: kelas tidak rentan seluas 12.795,03 ha atau 47,182 %, kelas rentan rendah 1.248,3 ha atau 4,03 %, kelas rentan sedang 564,15 ha atau 1,82 %, kelas rentan tinggi 1.364 ha atau 44,1 % dan kelas rentan sangat tinggi seluas 687,61 ha atau 2,2 % dari luas daerah penelitian 18.435 ha.

This study aims to identify and classify landform units of Kendari Town, to know the causal factors of flood, and to present them on the map of flood susceptibility. The approach used is geomorphology, especially morphogenesis approach. The method used in this study is observation method by performing it in some stages: Firstly, to interpret the landform units utilizing manually the black and white panchromatic aerial photo image supported by the field data. Secondly, to overlay the geomorphology, slope tilt, land use, soil and geology maps that have been given with ratings appropriate to their contributions to the flood. Thirdly, to classify the landform units appropriately to the total score of each land unit. The results of this study: (1) There are 9 landform units in the study area, namely: lightly denudation hills (D1), moderately denudation hills (D2), alluvial plains (F1), flood plains (F7), backswamps (F5), freshwater coast alluvial plains (M11), brackish coast alluvial plains (M12), flooding coast alluvial plains (M13), platform (M1). (2) The study area can be divided into five flood furnerbility classes, namely: unsusceptible class 12,795.03 ha. in wide or 47.182%, low susceptible class 1,248.3 ha. or 4.03%, moderate susceptible class 564.15 ha. or 1.82%, high susceptible class 1,364 ha. or 44.1%, and very high susceptible class 687.61 ha. or 2.2% of the study area width 18.435 ha.

Kata Kunci : Geografi Fisik, Geomorfologi, Banjir


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.