Laporkan Masalah

Curahan Tenaga Kerja Berbasis Gender pada Usaha Tani Kopi Robusta di Kabupaten Temanggung

Reineh Azahra, Ir. Any Suryantini, M. M., Ph. D; Dr. Lestari Rahayu Waluyati, M. P.

2026 | Skripsi | SOS.EK. PERTANIAN (AGROBISNIS)

Kopi robusta merupakan komoditas perkebunan strategis di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yang pengelolaannya melibatkan tenaga kerja pria dan wanita dalam rumah tangga tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan curahan tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga, kontribusi pendapatan tenaga kerja dalam keluarga, serta pola pengambilan keputusan antara pria dan wanita pada usaha tani kopi robusta. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Candiroto dan Kecamatan Wonoboyo dengan metode deskriptif kuantitatif terhadap 50 responden rumah tangga tani yang dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan perhitungan Hari Kerja Orang (HKO), uji beda paired sample t-test, analisis kontribusi pendapatan, serta One Sample Sign Test. Hasil penelitian menunjukkan usahatani kopi robusta membutuhkan curahan tenaga kerja usaha tani kopi robusta sebesar 214,09 HKO/tahun dengan curahan tenaga kerja pria (133,22 HKO) lebih besar dibanding wanita (80,87 HKO). Rata-rata pendapatan usaha tani kopi robusta mencapai Rp59.927.909,73 per tahun, dengan kontribusi pendapatan tenaga kerja dalam keluarga pria sebesar 41,02% wanita sebesar 23,45%, berbeda secara signifikan. Pola pengambilan keputusan usaha tani didominasi oleh pria pada seluruh dimensi, yaitu pemeliharaan, panen dan pasca panen, serta keuangan, yang mengindikasikan struktur patriarki masih kuat dalam pengelolaan usaha tani kopi robusta rakyat di Kabupaten Temanggung.

Robusta coffee is a strategic plantation commodity in Temanggung Regency, Central Java, involving both male and female labor within farm households. This study aims to determine the differences in family and non-family labor allocation, the income contribution of family labor, and the decision-making patterns between men and women in robusta coffee farming. Conducted in Candiroto and Wonoboyo Sub-districts, the research applied a quantitative descriptive method to 50 farm household respondents selected through purposive sampling. Data were analyzed using Man-Days (HKO) calculations, paired sample t-tests, income contribution analysis, and the One Sample Sign Test. The results indicate that robusta coffee farming in Temanggung Regency requiring a total labor allocation of 214.09 HKO per year, where male labor allocation (133.22 HKO) is higher than female labor (80.87 HKO). The average income from robusta coffee farming reaches IDR 59,927,909.73 per year, with income contributions from male and female family labor being 41.02% and 23.45% respectively, differing significantly. Farming decision-making patterns are predominantly dominated by men across all dimensions, maintenance, harvesting and post-harvest, and financial management indicating that a patriarchal structure remains strong in the management of smallholder robusta coffee farming in Temanggung Regency.

Kata Kunci : curahan tenaga kerja, gender, kopi robusta, pendapatan, pengambilan keputusan

  1. S1-2026-496869-abstract.pdf  
  2. S1-2026-496869-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-496869-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-496869-title.pdf