Laporkan Masalah

Collaborative Governance dalam Keberlanjutan Penghidupan Masyarakat Terdampak: Studi Kasus pasca Pembangunan YIA

Ganis Enjang Prasetyaningtyas, Prof. Dr. Torontuan Keban Yeremias, S.U., MURP.

2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) sebagai proyek infrastruktur strategis nasional telah mengubah ruang, mata pencaharian, dan kepemilikan aset masyarakat terdampak di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo. Namun, perubahan tersebut belum memberikan dampak yang merata, sementara kualitas tata kelola kolaboratif antar pemangku kepentingan menjadi faktor penentu dalam menjamin keberlanjutan penghidupan masyarakat pasca pembangunan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kolaboratif melalui dimensi tata kelola dalam memfasilitasi strategi adaptasi masyarakat terdampak, serta mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat dalam proses kolaboratif tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, memadukan kerangka Collaborative Governance (Ansell & Gash, 2008) dan Sustainable Livelihood Framework (DFID, 1999). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan aktor pemerinah kalurahan, Kapanewon Temon, pemerintah daerah, dan masyarakat terdampak didukung observasi di lima kalurahan serta studi dokumentasi. Analisi melalui tahapan kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan (Miles, Huberman, & Saldaña, 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kolaboratif berlangsung dengan kualitas yang belum sepenuhnya matang. Ditandai oleh ketimapangan posisi aktor sejak tahap awal, desain kelembagaan yang cenderung top-down, serta kepemimpinan fasilitatif yang lemah dari pemerintah desa yang sebagian besar hanya berperan sebagai penyalur informasi. Kondisi ini berimplikasi pada perubahan aset penghidupan yang timpang sehingga masyarakat melakukan adaptasi yang bersifa untuk bertahan dibandingkan fokus keberlanjutan. Penelitian ini menyimpulakn kondisi siklus kolaboratif berdampak penting pada komponen yang memengaruhi upaya penghidupan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan forum koordinasi multi-aktor yang inklusif serta optimalisasi program pemberdayaan berbasis kebutuhan riil masyarakat. 

The development of Yogyakarta International Airport (YIA) as national strategic infrastructure project has transformed the spatial arrangement, livelihoods, and asset ownership of affected communities in Temon Subdistrict , Kulon Progo Regency. However, these changes have not resulted in equitable impacts, while the quality of collaborative governance among stakeholders has become a determining factor in ensuring the sustainability of community livelihoods following the development. This study aims to analyze the role of collaboration through the dimension of governance in facilitating the adaptation strategies of affected communities, as well as to identify the driving and inhibiting factors within the collaborative process. This research employs a qualitative approach with a case study design, integrating the collaborative governance framework (Ansell & Gash, 2008) and the sustainable livelihoods framework (DFID, 1999). Data were collected through in-dept interviews with village government officials, Temon Subdistrict, regional government representatives, and affected communities, supported by field observations in five villages and documentary study. The analysis was conducted through the stages of data condensation, data display, and conclusion drawing (Miles, Huberman, & Saldaña, 2014). The findings show that the collaborative process has taken place with a quality that is not yet fully mature. This is indicated by power asymmetries among actors from the outset, a predominantly top-down institutional design, and weak facilitative leadership from villager governments, which largely function only as information intermediaries. This condition has resulted in an uneven transformation of livelihood assets, causing communities to adopt adaptation strategies oriented toward survival rather than sustainability. This study concludes that the conditions of the collaborative cycle have a significant impact on the factors influencing sustainable livelihood efforts. This study recommends strengthening inclusive multi-stakeholder coordination forums and optimizing empowerment programs based on the actual needs of the community. 

Kata Kunci : Tata Kelola Kolaboratif, Keberlanjutan Penghidupan, Pembangunan Infrastruktur, Pemberdayaan Masyarakat, Bandara Internasional Yogyakarta

  1. S1-2026-504440-abstract.pdf  
  2. S1-2026-504440-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-504440-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-504440-title.pdf