Adaptasi Transformasi Digital dalam Praktik Audit Internal Pemerintah Daerah: Studi Kasus pada Inspektorat Kota Baubau
Dilla Haryanti, Prof. Syaiful Ali, MIS., Ph.D., Ak., CA.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Akuntansi/Akuntansi Terapan
Transformasi
digital pemerintah daerah tidak hanya mengubah proses administrasi dan
pelayanan publik, tetapi juga memengaruhi karakter data, risiko, pengendalian,
dan bukti yang menjadi objek pengawasan internal. Penelitian ini bertujuan
menganalisis bagaimana konfigurasi transformasi digital Pemerintah Kota Baubau
berdasarkan Gadjah Mada Digital Transformation Governance Index
(GM-DTGI) 2025 tercermin dalam adaptasi praktik audit internal Inspektorat Kota
Baubau pada periode 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain studi kasus tunggal. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur
dengan delapan informan yang terdiri atas lima informan Inspektorat serta tiga
informan dari BPKAD dan Dinas Kominfo sebagai sumber triangulasi, yang
dilengkapi dengan telaah dokumen. Analisis dilakukan melalui thematic
analysis, matrix display, dan Technology-Organization-Environment
(TOE) digunakan sebagai lensa untuk menjelaskan faktor yang mendorong dan
menghambat adaptasi digital. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa praktik audit
internal Inspektorat Kota Baubau telah bergerak melampaui digitisasi parsial,
tetapi belum mencapai transformasi digital secara substantif. Pemanfaatan SIPD,
aplikasi OPD, dokumen elektronik, dan kanal digital telah mempercepat akses
informasi serta mendukung sebagian proses audit dan reviu, tetapi praktik
pengawasan masih berlangsung secara hibrida. Ketercerminan pilar-pilar GM-DTGI
dalam praktik audit internal juga bersifat parsial, terutama karena integrasi
sistem, tata kelola bukti digital, kompetensi auditor, manajemen perubahan,
serta pengawasan atas risiko digital belum sepenuhnya terlembaga. Analisis TOE
menunjukkan bahwa ketersediaan sistem dan dorongan lingkungan pemerintahan
menjadi pendorong adaptasi, sedangkan fragmentasi sistem dan data, keterbatasan
kompetensi serta SOP, dan ketergantungan pada ekosistem digital lintas OPD
menjadi penghambat utama. Kondisi tersebut menghasilkan kesenjangan asurans,
yaitu perkembangan digital pemerintah daerah yang lebih cepat dibandingkan
kapasitas fungsi audit internal dalam memberikan asurans atas risiko digital
secara komperhensif. Penelitian ini menegaskan bahwa transformasi digital
pemerintah daerah perlu diikuti dengan penguatan metodologi, kompetensi, tata
kelola bukti, dan infrastruktur audit digital agar fungsi pengawasan tetap
relevan dan akuntabel.
Digital transformation in local
government not only changes administrative processes and public service
delivery but also affects the nature of data, risk, controls, and evidence that
become subject to internal oversight. This study aims to analyze how the
digital transformation configuration of the Baubau City Government, based on
the 2025 Gadjah Mada Digital Transformation Governance Index (GM-DTGI), is
reflected in the adaptation of internal audit practices at the Baubau City
Inspectorate during 2024.The study employed a qualitative approach with a
single-case study design. Data were collected through semi-structured
interviews with eight informants, consisting of five informants from the
Inspectorate and three informants from BPKAD and the Communication and
Informatics Office as triangulation sources, complemented by document review.
The data were analyzed using thematic analysis, matrix display, and pattern
matching, while the Technology-Organization-Environment (TOE) framework was
used as an analytical lens to explain the factors that facilitate and hinder
digital adaptation. The findings show that the internal audit practices of the
Baubau City Inspectorate have moved beyond basic digitization toward partial
digitaization, but have not yet reached substantive digital transformation. The
use of SIPD, OPD applications, electronic documents, and digital communication
channels has accelerated access to information and supported parts of the audit
and review processes; however, oversight practices remain hybrid, combining
manual and digital procedures. The reflection of relevant GM-DTGI pillars in
internal audit practices is also partial, particularly because system
integration, digital evidence governance, auditor competencies, change
management, and oversight of digital risks have not yet been fully
institutionalized. The TOE analysis indicates that the availability of digital
system and pressures from the governmental environment act as key drivers of
adaptation, while system and data fragmentation, limited competencies and
standard operating procedures, and dependence on the cross-OPD digital
ecosystem constitute major barriers. These conditions result in an assurance
gap, in which the development of the local government’s digital environment
progresses faster than the capacity of the internal audit function to provide
comprehensive assurance over digital risks. This study emphasizes that local
government digital transformation should be accompanied by strengthened audit
methodologies, competencies, digital evidence governance, and digital audit
infrastructure to ensure that the oversight function remains relevant and
accountable.
Kata Kunci : digital transformation, internal audit, Inspectorate, GM-DTGI, Technology-Organization-Environment, assurance gap.