Perlaku Merokok Remaja dalam Perspektif Psikologi dan Ekologi: Penelitian Etnografi di 'Kota Kretek' Kudus Indonesia
ANITA A'ISAH, Prof Subandi, MA., Ph.D., Psikolog
2026 | Disertasi | S3 Psikologi
Kebiasaan merokok menimbulkan berbagai dampak
terhadap kesehatan fisik dan mental. Perilaku ini umumnya
mulai berkembang pada masa remaja sebagai hasil interaksi antara faktor
psikologis dan lingkungan sosial. Kabupaten Kudus, dengan keberadaan industri
rokok yang kuat dan identitas sebagai “Kota Kretek”, merupakan konteks
sosial-budaya yang berpotensi membentuk makna dan praktik merokok pada remaja. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis dinamika lingkungan sekitar industri rokok dan
kondisi psikologis remaja dalam membentuk perilaku merokok, baik pada kelompok
remaja perokok maupun bukan perokok. Penelitian menggunakan pendekatan
etnografi untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai pengalaman remaja dalam
konteks sosial budaya Kudus. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Gebog,
Kabupaten Kudus, melalui dua tahap pengumpulan data. Tahap pertama berupa
survei terhadap 446 remaja dari enam Sekolah Menengah Atas untuk memetakan pola
perilaku merokok, kondisi lingkungan sosial, serta sikap terhadap identitas
Kudus sebagai Kota Kretek. Tahap kedua dilakukan melalui wawancara mendalam dan
observasi partisipan terhadap 18 remaja beserta keluarganya, serta wawancara
dengan tokoh masyarakat, pendidik, tokoh agama, dan aparatur pemerintah yang
memiliki pemahaman mengenai kebijakan dan praktik sosial terkait rokok. Data
dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan aplikasi MAXQDA 2020. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok remaja perokok ditemukan tiga tema
utama, yaitu inisiasi perilaku merokok, regulasi diri dalam mempertahankan
perilaku merokok, dan dukungan keluarga terhadap praktik merokok. Pada kelompok
remaja bukan perokok ditemukan dua tema, yaitu regulasi diri untuk tidak
merokok dan faktor protektif keluarga. Pada kedua kelompok muncul tema yang
sama berupa lingkungan permisif terhadap merokok. Temuan penting menunjukkan
bahwa remaja perokok mengembangkan strategi regulasi diri untuk mempertahankan
kebiasaan merokok dengan mengelola ketidaknyamanan fisik maupun sosial,
sedangkan remaja bukan perokok melakukan negosiasi nilai untuk mempertahankan
pilihan tidak merokok sekaligus tetap diterima di lingkungannya. Analisis
berdasarkan teori ekologi Bronfenbrenner memperlihatkan bahwa industri rokok
berperan sebagai aktor kunci pada level eksosistem yang menghubungkan berbagai
sistem ekologi dalam suatu networked system, memengaruhi makrosistem dan
kronosistem sekaligus menjangkau mesosistem dan mikrosistem remaja. Penelitian
ini merekomendasikan perlunya intervensi lintas sistem yang tidak hanya
berfokus pada individu remaja, tetapi juga pada keluarga, sekolah, serta regulasi
struktural yang mengurangi permisivitas sosial terhadap rokok di wilayah
industri rokok.
Smoking behavior has various impacts on both
physical and mental health. This behavior generally begins to develop during
adolescence as a result of the interaction between psychological factors and
the social environment. Kudus Regency, with its strong cigarette industry and
identity as the “Kretek City,” represents a socio-cultural context that
potentially shapes the meaning and practice of smoking among adolescents. This
study aims to analyze the dynamics of the environment surrounding the cigarette
industry and the psychological conditions of adolescents in shaping smoking
behavior, both among adolescent smokers and non-smokers. This study employed an
ethnographic approach to obtain an in-depth understanding of adolescents’
experiences within the socio-cultural context of Kudus. The research was
conducted in Gebog District, Kudus Regency, through two stages of data
collection. The first stage involved a survey of 446 adolescents from six
senior high schools to map patterns of smoking behavior, social environmental
conditions, and attitudes toward Kudus’ identity as the Kretek City. The second
stage was carried out through in-depth interviews and participant observation
involving 18 adolescents and their families, as well as interviews with
community leaders, educators, religious leaders, and government officials who
have insights into policies and social practices related to cigarettes. The
data were analyzed using thematic analysis with the assistance of the MAXQDA
2020 software. The results show that among adolescent smokers three main themes
emerged: the initiation of smoking behavior, self-regulation in maintaining
smoking behavior, and family support for smoking practices. Among non-smoking
adolescents, two themes were identified: self-regulation to refrain from
smoking and family protective factors. In both groups, a common theme emerged
in the form of a permissive environment toward smoking. An important finding
indicates that adolescent smokers develop self-regulation strategies to
maintain their smoking habits by managing physical and social discomfort, while
non-smoking adolescents negotiate values to maintain their decision not to
smoke while still being accepted within their social environment. Analysis
based on Bronfenbrenner’s ecological theory shows that the cigarette industry
plays a key role at the exosystem level by connecting various ecological
systems within a networked system, influencing the macrosystem and chronosystem
while simultaneously reaching the mesosystem and microsystem of adolescents. This
study recommends the need for cross-system interventions that focus not only on
adolescents as individuals, but also on families, schools, and structural
regulations aimed at reducing social permissiveness toward smoking in regions
with strong cigarette industry presence.
Kata Kunci : Remaja, Psikologi, Ekologi, Perilaku Merokok, Kota Kretek.