DINAMIKA IMPLEMENTASI PROGRAM ASLI SOLOKU PINTER DALAM PENANGANAN ATS/APS DI KOTA SURAKARTA: Tinjauan Kapasitas Dinas Pendidikan Kota Surakarta sebagai Organisasi Sektor Publik
Roofi Jati Suryo Nafianto, Suripto, M.P.A., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Program
Asli Soloku Pinter merupakan program penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dan
Anak Putus Sekolah (APS) yang digagas oleh Dinas Pendidikan Kota Surakarta
dengan target Zero ATS dan diatur dalam Perwali No. 9.1 Tahun 2023.
Meskipun pada akhir 2023 seluruh data ATS telah dilaporkan tuntas, namun
persoalan ATS/APS tetap bersifat fluktuatif dan berulang. Hal ini sebagaimana
terindikasi dari masih tercatatnya 2.850 anak berstatus ATS dalam sistem
Kemendikdasmen hingga tahun 2025. Selain itu, hasil prasurvei juga menemukan
adanya gejala lemahnya koordinasi antara Dinas Pendidikan dan kelurahan sebagai
pelaksana pendataan di lapangan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keberadaan
regulasi formal tidak secara otomatis menjamin efektivitas implementasi
program, sehingga persoalan yang muncul perlu ditelusuri lebih dalam sebagai
gejala yang berkaitan dengan kondisi kapasitas Dinas Pendidikan sebagai
organisasi sektor publik. Oleh karena itu, penelitian ini berangkat dari
proposisi bahwa kondisi kapasitas Dinas Pendidikan Kota Surakarta berpotensi
mempengaruhi dinamika proses dan hasil implementasi Program Asli Soloku Pinter.
Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus eksplanatif.
Analisis proses implementasi menggunakan kerangka Jones (1984) melalui
aktivitas pengorganisasian, interpretasi, dan aplikasi, yang diperkuat dengan
faktor komunikasi dan disposisi sebagaimana dimaksud Edwards III (1980).
Analisis hasil implementasi menggunakan kerangka Mazmanian dan Sabatier (1980)
melalui tiga indikator, yaitu output kebijakan, kepatuhan kelompok sasaran, dan
dampak nyata. Sementara itu, analisis kondisi kapasitas Dinas Pendidikan Kota
Surakarta sebagai organisasi sektor publik dilakukan melalui tiga dimensi,
yaitu konteks kelembagaan, jaringan tugas, dan lingkungan aksi. Analisis data
menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam dengan sembilan informan dan studi dokumentasi. Selain itu,
peneliti mengambil data dari lokasi penelitian di Dinas Pendidikan Kota
Surakarta dan empat Kelurahan di Kota Surakarta.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa proses implementasi telah berjalan melalui empat
tahapan dengan komunikasi yang memadai dan komitmen pelaksana yang kuat, namun
masih menghadapi kendala berupa rigiditas kelembagaan dan resistensi kelompok
sasaran. Kondisi tersebut mendorong munculnya dua bentuk diskresi, yaitu
penundaan pendataan oleh kelurahan dan penggunaan surat pernyataan bagi anak
yang menolak melanjutkan pendidikan. Akibatnya, target Zero ATS dapat
dinilai tercapai secara administratif berdasarkan pemaknaan pelaksana, tetapi
belum optimal secara substantif. Hal ini terlihat dari 33% anak yang berhasil
kembali ke jalur pendidikan, sementara 67% lainnya tetap menolak melanjutkan
pendidikan. Selain itu, kondisi kapasitas Dinas Pendidikan Kota Surakarta juga
terbukti mempengaruhi dinamika implementasi melalui tiga dimensi, yaitu
rigiditas kelembagaan yang membatasi dukungan kepada kelurahan, kekosongan
peran aktor dalam jaringan tugas untuk penanganan persoalan sosial ekonomi, dan
kondisi lingkungan aksi yang membentuk resistensi kelompok sasaran di luar
kendali Dinas Pendidikan. Di satu sisi kapasitas organisasi mampu
mempertahankan keberlangsungan program. Namun, di sisi lain, belum cukup untuk
menghasilkan capaian substantif yang optimal.
Asli
Soloku Pinter Program is an initiative by the Surakarta City Education Office
to address out-of-school children (Anak Tidak Sekolah) and school dropouts
(Anak Putus Sekolah) under Mayoral Regulation No. 9.1 of 2023, with a Zero ATS
target. Although all ATS data were reported as administratively resolved by the
end of 2023, the issue remained fluctuating and recurrent, as indicated by the
thousand of children still recorded as ATS in the Ministry of Primary and
Secondary Education system through 2025. A preliminary survey also identified
coordination problems between the Education Office and urban village
administration responsible for field level data collection. These conditions
suggest that formal regulations do not automatically ensure effective program
implementation and that the problems encountered may reflect the organizational
capacity of the Education Office as a public sector institution. Accordingly,
this study examines how the capacity of the implementation process and outcomes
of the Asli Soloku Pinter Program.
This study employed a qualitative approach with an
explanatory case study method. The implementation process was analyzed using
Jones (1984) framework through the activities of organizing, interpreting, and
applying, complemented by the factors of communication and disposition proposed
by Edwards III (1980). Implementation outcomes were analyzed using the
Mazmanian and Sabatier (1980) framework, focusing on policy outputs, target
group compliance, and actual impacts. Meanwhile, the capacity of the Surakarta
City Education Office as a public sector organization was analyzed in terms of
institutional context, task networks, and action environment. Data were
analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. Data were collected
through in depth interviews with nine informants and documentary analysis. In
addition, data were obtained from the research sites, namely the Surakarta City
Education Office and four urban villages in Surakarta city.
The finding show that the implementation process has
proceeded through four stages, supported by adequate communication and strong
implementer commitment, but continues to face challenges in the form of
institutional rigidity and target group resistance. These conditions have
encouraged two forms of discretion, including the postponement of data
collection by village administrations and the use of declaration letters for
children who refused to return to education. Consequently, the Zero ATS target
was considered administratively achieved based on the implementers
interpretation, but remained substantively suboptimal, as only 33% of children
successfully returned to education, while 67% continued to refuse to do so.
Furthermore, the capacity of the Surakarta City Education Office influenced
implementation dynamics through three dimensions, including institutional
rigidity that limited support for village administrations, gaps in the task
network regarding actors responsible for addressing socioeconomic issues, and
action environment conditions that shaped target group resistance beyond the
Education Officies’s direct control. On the one hand, it was not sufficient to
produce optimal substantive outcomes.
Kata Kunci : implementasi kebijakan, kapasitas organisasi sektor publik, ATS/APS, Program Asli Soloku Pinter