IDENTIFIKASI SENYAWA POTENSIAL ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK SIPUT BIKU Hexabranchus sanguineus ASAL PANTAI WATU KARUNG, PACITAN
Herlina Hariyanti, Respati Tri Swasono, S.Si., M.Phil., Ph.D.; Dr. M. Idham Darussalam Mardjan, S.Si., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | KIMIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak
etil asetat siput biku Hexabranchus sanguineus (H. sanguineus). Selain itu, juga
untuk mengidentifikasi senyawa potensial antibakteri dari ekstrak tersebut.
Ekstraksi senyawa dilakukan secara maserasi, yakni siput biku beku
sebanyak 21,54 g yang telah dipotong kecil-kecil direndam dalam diklorometana
dan metanol (1:1 v/v). Ekstrak diklorometana yang telah diambil dan dievaporasi
kemudian dipartisi menggunakan pelarut etil asetat dan air (2:1 v/v). Ekstrak etil
asetat yang telah dievaporasi selanjutnya diuji aktivitas antibakterinya dengan
metode difusi cakram serta diidentifikasi senyawanya menggunakan LC-HRMS
dan penambatan molekul.
Ekstrak etil asetat siput biku yang dihasilkan sebanyak 0,41 g berupa
padatan berminyak hijau kecokelatan. Ekstrak tersebut memiliki aktivitas
antibakteri terhadap bakteri Gram positif Staphylococcus aureus (S. aureus) dan
Gram negatif Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa) dengan zona hambat
masing-masing 6,1 mm dan 4,4 mm. Hasil studi literatur mengindikasikan bahwa
tiga senyawa dari 287 senyawa hasil identifikasi LC-HRMS berpotensi sebagai
antibakteri, yakni caerulomycin F, elaiomycin, dan magnesidin. Caerulomycin F
merupakan senyawa potensial tertinggi sebagai antibakteri yang dibuktikan dengan
nilai afinitas pengikatan yang terendah berdasarkan penambatan molekul terhadap
protein target ATPase GyrB dari S. aureus (PDB ID: 3U2D).
This study aimed to evaluate the antibacterial activity of the ethyl acetate
extract of the nudibranch Hexabranchus sanguineus (H. sanguineus) and to identify
the potential antibacterial compounds present in the extract.
The extraction was carried out by maceration using 21.54 g of frozen
nudibranch sample that had been cut into small pieces and soaked in
dichloromethane and methanol (1:1, v/v). The dichloromethane extract was
separated and evaporated, followed by liquid-liquid partitioning using ethyl acetate
and water (2:1, v/v). The resulting ethyl acetate extract was evaporated and
subsequently evaluated for its antibacterial activity using the disk diffusion method.
The chemical constituents were identified using Liquid Chromatography–High
Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS), followed by molecular docking
analysis.
The ethyl acetate extract obtained was 0.41 g in the form of a greenish
brown oily solid. The extract exhibited antibacterial activity against the Gram
positive bacterium Staphylococcus aureus (S. aureus) and the Gram-negative
bacterium Pseudomonas aeruginosa (P. aeruginosa), with inhibition zone
diameters of 6.1 mm and 4.4 mm, respectively. A literature-based analysis indicated
that three compounds among the 287 compounds identified by LC-HRMS have
potential antibacterial activity, namely caerulomycin F, elaiomycin, and
magnesidin. Among these, caerulomycin F showed the highest antibacterial
potential, as demonstrated by the lowest binding affinity in molecular docking
against the ATPase GyrB target protein of S. aureus (PDB ID: 3U2D).
Kata Kunci : antibakteri, Hexabranchus sanguineus, LC-HRMS, penambatan molekul, siput biku