Peran Pemerintah Daerah Dalam Melakukan Penegakan Hukum Terhadap Pertambangan Batuan Ilegal Yang Menyebabkan Kerusakan Lingkungan Di Kabupaten Lampung Barat
Pranaldo Gunawan, Dr. Rr. Dinarjati Eka Puspitasari, S.H., M.Hum.
2026 | Tesis | S2 Magister Hukum
Aktivitas
pertambangan batuan ilegal di Kabupaten Lampung Barat telah menimbulkan potensi
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang mengancam keberlanjutan
fungsi ekosistem serta keselamatan masyarakat. Meskipun kewenangan perizinan
pertambangan telah beralih kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi,
Pemerintah Kabupaten tetap memiliki kewenangan atributif dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis peran Pemerintah Kabupaten Lampung Barat dalam
pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan akibat pertambangan
batuan ilegal, pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku pertambangan batuan
ilegal, serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya.
Penelitian
ini menggunakan metode pendekatan normatif-empiris. Data penelitian terdiri dari data sekunder berupa bahan
hukum primer, sekunder, dan tersier, serta data primer yang diperoleh melalui
wawancara dengan narasumber dan responden. Analisis
data dilakukan secara deskriptif kualitatif untuk menjawab permasalahan secara
mendalam.
Hasil penelitian
ini menujukan bahwa pertama Pemerintah Kabupaten Lampung Barat secara yuridis
memiliki kewenangan dalam melakukan pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup, Namun, implementasinya belum berjalan optimal karena
pemerintah daerah lebih mengedepankan pendekatan persuasive dan pembinaan
administratif. Kedua Pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku tambang ilegal
belum berjalan optimal karena Pemerintah Kabupaten Lampung Barat tidak
menjatuhkan sanksi administratif, perdata, maupun pidana. Ketiga Kendala utama
yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Lampung Barat meliputi keterbatasan
kewenangan akibat sentralisasi urusan pertambangan, lemahnya koordinasi
antarlembaga, keterbatasan sumber daya dalam pengawasan, serta faktor
sosial-ekonomi berupa ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas pertambangan
ilegal sebagai sumber mata pencaharian.
Illegal rock mining activities in
West Lampung Regency have generated potential environmental pollution and/or
degradation, posing a significant threat to the sustainability of ecosystem
functions and public safety. Although mining licensing authority has been
transferred to the Central and Provincial Governments, the Regency Government
retains attributive authority regarding environmental protection and
management, as stipulated in Law Number 32 of 2009 concerning Environmental
Protection and Management. This study aims to analyze the role of the West
Lampung Regency Government in mitigating environmental pollution and/or
degradation caused by illegal rock mining, the implementation of law
enforcement against the perpetrators of such activities, and the obstacles
encountered during this process.
This study employs a
normative-empirical approach. The research data comprises secondary data consisting
of primary, secondary, and tertiary legal materials as well as primary data
obtained through interviews with informants and respondents. The data were
analyzed using a qualitative-descriptive method to comprehensively address the
research problems.
The results of this study indicate that, firstly, the West Lampung Regency Government possesses the legal authority to control environmental pollution and/or degradation; however, implementation has not been optimal because the local government prioritizes persuasive approaches and administrative guidance. Secondly, law enforcement against illegal miners has been suboptimal, as the West Lampung Regency Government has failed to impose administrative, civil, or criminal sanctions. Thirdly, the primary obstacles facing the West Lampung Regency Government include limited authority resulting from the centralization of mining affairs, weak inter-agency coordination, resource constraints regarding oversight, and socio-economic factors specifically the community's reliance on illegal mining activities for their livelihood.
Kata Kunci : Pertambangan Batuan Ilegal, Penegakan Hukum, Pemerintah Daerah, Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.