Pemantauan Tanaman Biomassa Gliricidia sepium Kemitraan di Areal HKm KTH Ranu Makmur, Probolinggo
Louis Bertrand Raditya Wijanarto, Dr. Ir. Wahyu Wardhana, S.Hut., M.Sc., IPU.; Ir. Budi Mulyana, S.Hut., M.Si., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Pengembangan Gliricidia
sepium (G. sepium) sebagai sumber biomassa pada perhutanan sosial
memerlukan dasar empiris untuk menentukan aspek penanaman yang perlu
diprioritaskan serta memperkirakan ketersediaan biomassa. Penelitian ini
bertujuan memantau perkembangan biomassa atas permukaan (aboveground biomass,
AGB) G. sepium serta menganalisis perbedaannya berdasarkan pola dan bahan
tanaman, sekaligus memproyeksikan potensi pasokan pada 2030. Inventarisasi
sensus dilakukan pada 40 petak penanaman tahun 2024 seluas 9,8 ha pada
September 2025 dan Juli 2026, dengan 38 petak produktif dianalisis. AGB diduga
menggunakan persamaan alometrik spesifik G. sepium dan dianalisis
menggunakan general linear model faktorial dua arah. Pertumbuhan
diproyeksikan menggunakan model Bruce–Schumacher, sedangkan umur panen
operasional ditetapkan berdasarkan perpotongan mean annual increment
(MAI) dan current annual increment (CAI). Bahan tanaman menunjukkan
perbedaan AGB yang signifikan pada umur 1 dan 2 tahun, sedangkan pola tanam dan
interaksi pola × bahan tidak signifikan. Pada umur 2 tahun, estimated
marginal mean AGB bibit mencapai 6,108 Mg ha?¹ dibandingkan 2,307 Mg ha?¹
pada stek. AGB diproyeksikan mencapai 8.108 kg ha?¹ pada umur 3 tahun yang
ditetapkan sebagai umur panen operasional. Setelah koreksi mortalitas sekitar
3?n proporsi biomassa termanfaatkan 86,30%, potensi pasokan panen pertama
sebesar 6.787 kg ha?¹. Penerapannya pada kohort 2024–2027 menghasilkan potensi
pasokan kumulatif 811,24 Mg pada 2030. Hasil menunjukkan bahwa bibit dapat
diprioritaskan, sedangkan pola tanam tetap diterapkan secara adaptif sesuai
kondisi petak.
The
development of Gliricidia sepium (G. sepium) as a biomass source
in social forestry requires an empirical basis for identifying priority
planting attributes and estimating biomass availability. This study aimed to
monitor changes in the aboveground biomass (AGB) of G. sepium and
analyze differences according to planting pattern and propagation material,
while projecting potential biomass supply through 2030. A complete inventory
was conducted in 40 parcels established in 2024, covering 9.8 ha, in September
2025 and July 2026, with 38 productive parcels analyzed. AGB was estimated
using a species-specific allometric equation and analyzed using a two-way factorial
general linear model. Growth was projected using the Bruce–Schumacher model,
while the operational harvest age was determined from the intersection of mean
annual increment (MAI) and current annual increment (CAI). Propagation material
showed significant differences in AGB at ages 1 and 2 years, whereas planting
pattern and the pattern × material interaction were not significant. At age 2,
the estimated marginal mean AGB of seedlings reached 6.108 Mg ha?¹ compared
with 2.307 Mg ha?¹ for cuttings. AGB was projected to reach 8,108 kg ha?¹ at
age 3 years, which was designated as the operational harvest age. After
correcting for an approximately 3% mortality rate and a usable biomass
proportion of 86.30%, the potential first-harvest supply was 6,787 kg ha?¹.
Application to the 2024–2027 planting cohorts resulted in a cumulative
potential biomass supply of 811.24 Mg through 2030. The results indicate that
seedlings can be prioritized, while planting patterns may remain adaptive to
parcel conditions.
Kata Kunci : biomassa atas permukaan, bahan tanaman, Bruce–Schumacher, MAI–CAI, pasokan bahan baku.