Laporkan Masalah

Kekuasaan, Pengetahuan, dan Politik Kebudayaan : Analisis Govermentality Kebijakan Keistimewaan dalam Dokumen RPJPD DIY 2025-2045

Agung Kresna Bayu, Amelia Maika, S.Sos., MA., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 Sosiologi

Penelitian ini menganalisis konstruksi kebijakan keistimewaan dan mekanisme governmentality dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) DIY 2025-2045. Penelitian kualitatif berparadigma kritis poststrukturalis menggunakan analisis wacana kritis Michel Foucault. Analisis mencakup genealogi, relasi kekuasaan/pengetahuan melalui tiga sumbu Rawlinson, empat teknologi pemerintahan, dan eventalization. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keistimewaan dikonstruksi sebagai rasionalitas pemerintahan melalui legitimasi kultural, historis, dan konstitusional. Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman diposisikan sebagai produsen makna budaya, sedangkan Pemerintah Daerah DIY menerjemahkannya menjadi kebijakan administratif. Teknologi produksi, sistem tanda, kuasa, dan diri menghubungkan pengukuran kebudayaan, simbol sejarah, regulasi spasial, serta internalisasi nilai budaya. Keterkaitan tersebut mengonstruksi subjek ideal Manusia Yogyakarta 2045 yang produktif, adaptif, kompetitif, sekaligus harmonis dan terikat pada identitas keistimewaan. Melalui eventalization, keistimewaan ditafsirkan sebagai konstruksi historis yang kontingen. RPJPD dipahami sebagai program realitas dan rezim kebenaran yang mengarahkan pembangunan sekaligus membatasi narasi alternatif. 

This study analyzes the construction of special-status policy and the mechanisms of governmentality in the 2025-2045 Long Term Regional Development Plan (RPJPD) of the Special Region of Yogyakarta (DIY). Adopting a critical-poststructuralist paradigm, this qualitative study employs Michel Foucault’s critical discourse analysis. The analysis encompasses genealogy, power/knowledge relations through Rawlinson’s three axes, four technologies of government, and eventalization. The findings indicate that Yogyakarta’s special status is constructed as a governmental rationality through cultural, historical, and constitutional legitimation. The Yogyakarta Sultanate and the Pakualaman Duchy are positioned as producers of cultural meaning, while the DIY Regional Government translates these meanings into administrative policies. Technologies of production, sign systems, power, and the self connect cultural measurement, historical symbols, spatial regulation, and the internalization of cultural values. Their interplay constructs the ideal “Yogyakarta citizen of 2045” as productive, adaptive, and competitive, yet oriented toward harmony and bound to an identity rooted in special status. Through eventalization, special status is interpreted as a contingent historical construction. The RPJPD is understood as a program for shaping reality and a regime of truth that guides development while constraining alternative narratives.

Kata Kunci : governmentality, kekuasaan/pengetahuan, politik kebudayaan, keistimewaan DIY, RPJPD DIY 2025-2045, eventalization.

  1. S2-2026-501699-abstract.pdf  
  2. S2-2026-501699-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-501699-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-501699-title.pdf