Sound Horeg Carnivals in East Java: The Making of Vibrational Citizenship
Arya Jagat Pratista Adyuta, Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, S.Ant., M.A.
2026 | Tesis | S2 Antropologi
Tesis ini mengembangkan konsep “kewargaan vibrasional” untuk fokus pada relasi antara vibrasi-sonik dan kewargaan. Dengan menelaah praktik di karnaval sound horeg di Jawa Timur, tesis ini berargumen untuk perhatian lebih pada peran vibrasi-sonik dalam memungkinkan kewargaan. Berdasarkan pada penelitian lapangan etnografi tambal-sulam berbasis pendengaran dengan aktor utama karnaval sound horeg (kru sound, penyewa, dan konten kreator), tesis ini menjelaskan bagaimana karnaval sound horeg dikelola, diregulasi, dan termediasi. Dengan mendeskripsikan pertemuan antara karnaval sound horeg dengan regulasi dan diskursus moral, tesis ini menunjukkan bagaimana vibrasi-sonik diproduksi melalui penavigasian warga terhadap relasi ambivalen mereka dengan negara dan sesama warga. Tersituasi dalam ekonomi informal di Jawa Timur, aktor utama terlibat dalam praktik “rekayasa suara” (Greene 1999) termasuk merakit dan mengoperasikan; mendengarkan; dan merekam dan mengunggah. Praktik rekayasa suara tersebut memproduksi sebuah “konterpublik aural” (Yoganathan 2022) yang menunjukkan “kehadiran elektrosonik” (Wallach 2003). Selain itu, kewargaan vibrasional berhubungan dengan isu “sentimen moral” (Throop 2012) terkait “etika mendengarkan” (Hirschkind 2001) yang muncul melalui karnaval sound horeg. Tesis ini menunjukkan bahwa kewargaan vibrasional menawarkan fokus pada pentingnya suara dan musik sebagai vibrasi-sonik dalam partisipasi politik.
This thesis develops the concept of “vibrational citizenship” to focus on the relations between sonic-vibration and citizenship. Through examining the practices in sound horeg carnivals in East Java, this thesis argues for increased attention to the roles of sonic-vibration in enabling citizenship. Grounded in a patchwork ethnographic fieldwork based on listening with sound horeg carnivals’ main actors (soundcrews, renters, and content creators), this thesis details how sound horeg carnivals are managed, regulated, and mediated. By describing the encounters between sound horeg carnivals and external moral regulation and discourse, this thesis shows how sonic-vibration produced through navigating citizens’ ambivalent relationships with the state and fellow citizens. Situated in the informal economies of East Java, the main actors engage in practices of “sound engineering” (Greene 1999) including assembling and operating; listening; and recording and posting. These practices of sound engineering produced an “aural counterpublic” (Yoganathan 2022) that enacts “electrosonic presence” (Wallach 2003). Furthermore, vibrational citizenship corresponds to the issues of “moral sentiments” (Throop 2012), particularly related to “the ethics of listening” (Hirschkind 2001), arising through sound horeg carnivals. This thesis shows that vibrational citizenship offers a focus on the importance of sound and music as sonic-vibration in participating in politics.
Kata Kunci : sound horeg, carnivals, vibration, citizenship, morality