Pengaruh Disrupsi Usaha Tani Terhadap Modal Penghidupan dan Resiliensi Petani Bawang Merah di Kabupaten Bantul
Ulin Nuha Diah Wulandari, Alia Bihrajihant Raya, S.P., M.P., Ph.D.;Prof.Dr.Ir.Irham, M.Sc.;Prof.Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.
2026 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian
Sektor pertanian dinilai cukup sensitif
terhadap berbagai disrupsi yang bersumber dari aspek ekonomi, ekologi, sosial,
maupun teknologi. Penelitian ini menggambarkan bagaimana dinamika disrupsi yang
menimpa komoditas bawang merah sebagai salah satu komoditas yang rentan
terhadap resiko disrupsi serta bagaimana pemanfaatan modal penghidupan dan
kapasitas resiliensi yang dimiliki petani. Tujuan penelitian ini yaitu
mengetahui tingkatan disrupsi usahatani, modal penghidupan, dan kapasitas
resiliensi, serta menganalisis pengaruh langsung maupun mediasi antar variabel.
Dengan melibatkan 140 responden, penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif dengan metode PLS-SEM pada dua agroecological zone yang cukup
rentan di Kabupaten Bantul yaitu lahan pesisir (Kapanewon Kretek) dan lahan
perbukitan karst (Kapanewon Imogiri). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
mayoritas petani (lebih dari 50%) memiliki tingkat disrupsi usahatani, modal
penghidupan dan kapasitas resiliensi yang rendah. Tingkat capaian keseluruhan
berada pada kategori moderat hingga baik yaitu disrupsi usahatani (54,64% - kadang-kadang),
modal penghidupan (62,14% - baik), dan kapasitas resiliensi (54,92% - cukup mampu).
Adapun pada pengujian jalur diperoleh
hasil bahwa terdapat pengaruh langsung secara negatif pada disrupsi usahatani
terhadap modal penghidupan petani dan pengaruh langsung secara positif pada
modal penghidupan petani terhadap kapasitas resiliensi. Sementara hubungan
pengaruh antara disrupsi usahatani dengan kapasitas resiliensi tidak
signifikan. Pada pengujian pengaruh mediasi, modal penghidupan berperan sebagai
mediator mutlak atau adanya jalur mediasi penuh antara pengaruh disrupsi usahatani
terhadap kapasitas resiliensi petani melalui modal penghidupan. Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi masukan dalam perancangan program peningkatan
kapasitas resiliensi melalui pengoptimalan aspek modal penghidupan dan
mengurangi sumber-sumber disrupsi khususnya pada komoditas bawang merah.
The agricultural sector is considered to be
quite sensitive to various disruptions stemming from economic, ecological,
social, and technological factors. This study describes the dynamics of
disruptions affecting shallots as one of the most vulnerable commodities to
such risks as well as how farmers utilize their livelihood capital and
resilience capacity. The objectives of this study are to determine the levels
of agricultural disruption, livelihood capital, and resilience capacity, and to
analyze the direct and mediating effects among these variables. Involving 140
respondents, this study employed a quantitative approach using the PLS-SEM
method in two agroecological zones in Bantul Regency that are particularly
vulnerable: coastal land (Kapanewon Kretek) and karst hillland (Kapanewon
Imogiri). The results indicate that the majority of farmers (more than 50%)
exhibit low levels of agricultural disruption, livelihood capital, and
resilience capacity. Overall achievement levels fell into the moderate to good
categories: farming disruption (54.64% – occasional), livelihood capital
(62.14% – good), and resilience capacity (54.92% – fairly capable). Direct
testing revealed that there is a direct negative effect of farming disruption
on farmers’ livelihood capital and a direct positive effect of farmers’
livelihood capital on resilience capacity. Meanwhile, the relationship between
farming disruptions and resilience capacity was not significant. In the
mediation analysis, livelihood capital acted as an absolute mediator,
indicating a full mediation pathway through which farming disruptions influence
farmers’ resilience capacity via livelihood capital. This study is expected to
provide foundation for the design of programs to enhance resilience capacity by
optimizing livelihood capital and reducing sources of disruption, particularly
in the shallot commodity.
Kata Kunci : Disrupsi Usahatani, Modal Penghidupan, Kapasitas Resiliensi, Petani Bawang Merah, Lahan Marginal