Laporkan Masalah

Integrasi Space Syntax, Dimensi Fraktal, dan Klaster Spasial Sebagai Kerangka Baru Studi Dinamika Aglomerasi Perkotaan

Firman Afrianto, Dr.Eng. Ir. Muhammad Sani Roychansyah, S.T., M.Eng.; Dr. Yori Herwangi, S.T., M.URP.

2026 | Disertasi | DOKTOR PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Aglomerasi perkotaan sering berkembang melampaui batas administratif dan membentuk organisasi ruang yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan hanya melalui delineasi administratif, kawasan terbangun, atau wilayah fungsional. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menjelaskan proses aglomerasi secara morfologis-spasial melalui integrasi Space Syntax, Dimensi Fraktal, dan klaster spasial berbasis DBSCAN. Penelitian menggunakan pendekatan abduktif-kuantitatif pada 21 kasus Functional Urban Area (FUA) di Indonesia yang dikelompokkan ke dalam kategori City, Metropolitan Area, Metropolitan Area Belt, dan Megalopolis sebagai kerangka perbandingan. Space Syntax digunakan untuk membaca struktur konfiguratif jaringan, Dimensi Fraktal untuk membaca kompleksitas dan perubahan pola menurut skala, sedangkan DBSCAN untuk membaca konsentrasi, fragmentasi, perkolasi, konsolidasi, dan fusi klaster pada skala kedekatan yang berbeda. Hasil analisis juga dibandingkan dengan data kawasan terbangun historis dan eksisting. Temuan menunjukkan bahwa ketiga pendekatan menghasilkan informasi yang berbeda tetapi saling terkait. Pembacaan secara bersama membentuk kerangka Structure–Scale–Cluster, yang memungkinkan struktur jaringan, kompleksitas lintas skala, dan konfigurasi klaster dipahami sebagai bagian dari satu organisasi morfologis-spasial. Hasil juga menunjukkan bahwa variasi antarkasus maupun di dalam kategori cukup besar, sehingga City, Metropolitan Area, Metropolitan Area Belt, dan Megalopolis tidak dapat diperlakukan sebagai urutan kronologis universal. Konsentrasi, fragmentasi, perkolasi, konsolidasi, dan fusi lebih tepat dipahami sebagai keadaan morfologis yang bergantung pada skala pengamatan. Penelitian ini merumuskan Kerangka Morfogenesis Fraktal-Spasial Aglomerasi sebagai kerangka teoretik-operasional untuk mendiagnosis aglomerasi melalui hubungan struktur jaringan, kompleksitas lintas skala, dan konfigurasi klaster. Kerangka ini tidak dimaksudkan sebagai model kausal atau prediksi temporal, tetapi sebagai cara membaca organisasi aglomerasi secara multiskalar dengan membedakan kategori, keadaan morfologis, skala, dan waktu.

Urban agglomeration often extends beyond administrative boundaries and forms spatial organizations that cannot be fully explained by administrative delineation, built-up areas, or functional regions alone. This study aims to identify and explain agglomeration processes from a morphological-spatial perspective through the integration of Space Syntax, fractal dimension analysis, and DBSCAN-based spatial clustering. A quantitative abductive approach is applied to 21 Functional Urban Area (FUA) cases in Indonesia, grouped into City, Metropolitan Area, Metropolitan Area Belt, and Megalopolis as comparative categories. Space Syntax is used to examine configurational network structure, fractal dimension analysis to assess complexity and changes across spatial scales, and DBSCAN to identify concentration, fragmentation, percolation, consolidation, and cluster fusion at different proximity scales. The analytical results are also compared with historical and current built-up area data. The findings show that the three approaches provide different but closely related forms of information. Their combined use forms a Structure–Scale–Cluster framework through which network structure, cross-scale complexity, and cluster configuration can be interpreted as parts of a single morphological-spatial organization. The results also reveal substantial variation both across cases and within categories, indicating that City, Metropolitan Area, Metropolitan Area Belt, and Megalopolis should not be treated as a universal chronological sequence. Concentration, fragmentation, percolation, consolidation, and fusion are better understood as morphological states whose appearance depends on the scale of observation. This study formulates the Fractal-Spatial Morphogenesis Framework for Urban Agglomeration as a theoretical-operational framework for diagnosing agglomeration through the relationship among network structure, cross-scale complexity, and cluster configuration. The framework is not intended as a causal or temporal prediction model, but as a multiscalar approach that distinguishes category, morphological state, scale, and time.

Kata Kunci : aglomerasi perkotaan, Space Syntax, Dimensi Fraktal, DBSCAN, klaster spasial, morfogenesis spasial, Functional Urban Area

  1. S3-2026-499076-abstract.pdf  
  2. S3-2026-499076-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-499076-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-499076-title.pdf