Laporkan Masalah

Paradoks Transparansi dan Persepsi Etika Merek pada Strategi Diversifikasi Anak Perusahaan Tembakau: Peran Skeptisisme Konsumen Terhadap Kepercayaan dan Niat Beli

Chrishinta Anggradiar, Widya Paramita, S.E., M.Sc., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 SAINS MANAJEMEN

Penelitian ini menguji pengaruh transparansi merek terhadap niat beli melalui persepsi etika merek dan kepercayaan merek secara berurutan, serta peran skeptisisme konsumen sebagai pemoderasi, pada merek makanan dan minuman yang berafiliasi dengan perusahaan induk dari industri tembakau di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pemodelan persamaan struktural berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM) pada 287 responden yang menyadari adanya afiliasi merek dengan industri tembakau. Transparansi merek dimodelkan sebagai konstruk tingkat tinggi reflektif-formatif dengan tiga dimensi, yaitu kejelasan, objektivitas, dan proaktivitas. Hasil menunjukkan transparansi merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi etika merek (H1 didukung) serta berpengaruh positif terhadap niat beli secara tidak langsung melalui persepsi etika dan kepercayaan merek (H3 didukung). Skeptisisme konsumen terbukti memoderasi hubungan transparansi dan persepsi etika secara signifikan, tetapi memperkuat dan bukan memperlemah, sehingga hipotesis moderasi (H2) tidak didukung. Temuan ini mengungkap paradoks skeptisisme, yaitu transparansi justru paling efektif pada konsumen yang bersikap kritis. Penelitian menyimpulkan bahwa bagi merek yang berafiliasi dengan industri bercitra negatif, transparansi bukanlah risiko yang memperburuk citra, melainkan cara untuk membangun persepsi etis, kepercayaan, dan niat beli konsumen.

This study examines the effect of brand transparency on purchase intention through the serial mediation of perceived brand ethicality and brand trust, together with the moderating role of consumer skepticism, in the context of food and beverage brands affiliated with tobacco-industry parent companies in Indonesia. The study employs a quantitative approach using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with 287 respondents who were aware of the brands' affiliation with the tobacco industry. Brand transparency is modeled as a reflective-formative higher-order construct comprising three dimensions, namely clarity, objectivity, and proactivity. The results show that brand transparency has a positive and significant effect on perceived brand ethicality (H1 supported) and a positive indirect effect on purchase intention through perceived brand ethicality and brand trust (H3 supported). Consumer skepticism significantly moderates the relationship between transparency and ethicality, but it strengthens rather than weakens the effect, therefore the moderation hypothesis (H2) is not supported. This finding reveals a skepticism paradox, in which transparency is most effective precisely among critical consumers. The study concludes that for brands affiliated with a negatively perceived industry, transparency is not a reputational risk but rather a means to build perceived ethicality, trust, and consumer purchase intention.

Kata Kunci : transparansi merek, persepsi etika merek, skeptisisme konsumen, kepercayaan merek, niat beli, industri tembakau.

  1. S2-2026-541007-abstract.pdf  
  2. S2-2026-541007-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-541007-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-541007-title.pdf