Hubungan Beberapa Faktor Risiko Dengan Katarak Senilis
Zulrifqi, dr. Hartono ; dr. Achmad Djunaedi, SU
1993 | Skripsi | S1 KEDOKTERANKebutaan merupakan masalah yang menjadi perhatian utama pada negara yang sedang berkembang. Di Indonesia masalah kebutaan sudah menjadi masalah nasional. Adapun urutan penyebab kebutaan sebagai berikut : kekeruhan lensa (katarak) 0,7 %, kekeruhan kornea 0,13 %, glaukoma 0,10 %, kelainan refraksi 0,03 %, dan 0,18% lain-lain. Dari sekian banyak penyebab kebutaan, katarak merupakan penyebab terbanyak kebutaan. Katarak merupakan kelainan mata yang ditandai dengan kekeruhan lensa dan termasuk penyakit mata yang tidak bisa dicegah timbulnva tetapi bisa ditanggulangi. Proses terjadinya katarak senilis sering dihubunghkan dengan pertambahan umur seseorang. Akan tetapi pengaruh dari luar tubuh manusia dapat mempercepat timbulnya katarak lebih dini dan mempercepat perkembangan katarak selanjutnya. Pancaran sinar matahari dalam intensitas yang tinggi dan dalam waktu yang lama diduga berpengaruh terhadap timbulnya katarak dan beberapa keadaan yang berhubungan dengan kondisi fisik, lingkungan kerja dan tempat tinggal, penyakit tertentu diduga turut serta dalam proses terbentuknya katarak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menerangkan hubungan faktor-faktor risiko yang diteliti dengan tingkat kekeruhan psda katarak senilis. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan katarak dicatat : umur, Jjenis kelamin, tempat tinggal (dataran rendah dan pegunungan), lokasi pekerjaan (ruangan atau lapangan). Kemudian dihubungkan dengan stadium katarak dan dianalisa secara diskriptif. Hubungan ini diuji secara statistik dengan metode Khi kuadrat dengan tingkat perbedaan kemaknaannya. Dari penelitian diperoleh 305 kasus katarak yang merupakan katarak primer. Untuk stadium sebelum matur dan matur kasus katarak lebih banyak ditemukan pada laki-laki, tetapi secara statistik tidak bermakna (p > 0,05). Berdasarkan umur penderita kenaikan kasus mulai nyata pada usia 40 sampai 49 tahun yaitu 22 kasus (7,21 %). Pada usia 60 sampai 69 tahun kasus katarak paling banyak ditemukan 128 kasus (41,97 %). Di dataran rendah kasus katarak lebih banyvak ditemukan daripada di pegunungan, namun tidak bermakna secara statistik (p >0,05). Menurut lokasi pekerjaan penderita yang bekerja di ruangan lebih banyak menderita katarak dibanding yang bekerja di lapangan. Secara statistik perbedaan tersebut bermakna (p < 0,05).
-
Kata Kunci : katarak senilis, faktor risiko