Desain "Controlled-Release Antibiofilm System" pada Permukaan Titanium sebagai Material Implan Gigi
Bunga Artika, drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D
2026 | Tesis | MAGISTER TEKNIK BIOMEDIS
Kegagalan
pemasangan implan berbahan titanium sering kali disebabkan oleh adanya infeksi
pasca implantasi akibat pembentukan biofilm bakteri. Bakteri utama penyebab infeksi
pasca implantasi adalah Staphylococcus aureus. Modifikasi permukaan
titanium menggunakan metode pelapisan layer-by-layer dengan
kolagen-kitosan sebagai matriks serta vankomisin sebagai bahan aktif
antibiofilm menjadi solusi untuk mengatasi infeksi pasca implantasi. Pelapisan
dilakukan dengan metode pencelupan yang mengandalkan interaksi elektrostatik
antar lapisan. PEI digunakan sebagai anchoring layer untuk menjaga
stabilitas lapisan selanjutnya yaitu lapisan matriks dan vankomisin. Sistem
pelapis A menggunakan kolagen sebagai matriks, sedangkan sistem pelapis B,
matriks berupa campuran kolagen-kitosan dengan rasio 1:1. Karakterisasi
pelapisan dilakukan dengan pengukuran sudut kontak, pengamatan dengan SEM dan
analisis EDS. Profil pelepasan vankomisin dianalisis hingga jam ke 72
dilanjutkan dengan pemodelan kinetika pelepasan. Efek pelapisan terhadap
biofilm S. aureus diamati pada inkubasi 24 jam dan 72 jam dengan metode
pengukuran massa biofilm (fotometri), analisis dengan CLSM dan pengamatan dengan
SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pelapisan yang dilakukan efektif
membentuk lapisan yang mampu melepaskan vankomisin hingga jam ke-72 dengan laju
pelepasan yang lebih cepat pada sistem pelapis A dibanding B terutama pada 24
jam pertama. Kepadatan, ketebalan dan volume biofilm mengalami penurunan yang
signifikan (Two Way ANOVA p<0>S. aureus pasca implantasi.
Titanium-based
implants frequently fail due to post-implantation infections triggered by
bacterial biofilm formation, predominantly caused by Staphylococcus aureus.
Surface modification of titanium using a layer-by-layer coating approach with
collagen–chitosan matrices and vancomycin as an antibiofilm agent offers a
promising strategy to mitigate such infections. Coatings were prepared via
dip-coating, relying on electrostatic interactions between layers, with
polyethyleneimine (PEI) serving as the anchoring layer to stabilize subsequent
matrix and drug layers. Two coating systems were developed: System A employed
collagen as the matrix, while System B utilized a 1:1 collagen–chitosan blend.
Coating characterization was performed through contact angle measurements,
scanning electron microscopy (SEM), and energy-dispersive spectroscopy (EDS).
Vancomycin release profiles were monitored up to 72 hours and analyzed using
kinetic modeling. The antibiofilm efficacy against S. aureus was
assessed after 24 and 72 hours using biofilm desity quantification
(photometry), confocal laser scanning microscopy (CLSM), and SEM. Results
demonstrated that both systems effectively released vancomycin up to 72 hours,
with System A exhibiting faster release within the first 24 hours. Biofilm density,
thickness, and biomass volume were significantly reduced (Two-Way ANOVA, p <
0>S. aureus biofilm formation post?implantation.
Kata Kunci : pelapisan layer-by-layer, biofilm Staphylococcus aureus, kolagen, kitosan, vankomisin