Laporkan Masalah

Kepemimpinan Perempuan dalam Community-Based Tourism di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta

Ratih Dewanti, Dr.rer.pol. Dyah Widiyastuti, S.T., M.C.P; Dr. Wiwik Sushartami, M.A.

2026 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana kepemimpinan perempuan membuka ruang negosiasi terhadap norma gender serta mengidentifikasi tantangan dan peluang bagi keberlanjutan ruang negosiasi tersebut dalam praktik Community-Based Tourism (CBT) di Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan membuka ruang negosiasi terhadap norma gender melalui tiga praktik tata kelola, yaitu pengambilan keputusan yang lebih partisipatif, penguatan transparansi dan akuntabilitas yang membangun legitimasi kepemimpinan berbasis kinerja, serta fleksibilitas pembagian peran dalam praktik operasional yang lebih didasarkan pada kemampuan individu daripada identitas gender. Meskipun demikian, perluasan peran perempuan di ruang publik belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan dalam berikutpembagian kerja domestik.

Keberlanjutan ruang negosiasi tersebut menghadapi tantangan berupa lemahnya regenerasi organisasi, konflik distribusi manfaat, ancaman strategic drift, dan beban ganda perempuan. Sebaliknya, legitimasi demokratis, modal sosial, kapasitas adaptif masyarakat, dan dukungan jejaring eksternal menjadi peluang untuk memperkuat tata kelola yang lebih inklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan norma gender dalam Community-Based Tourism berlangsung secara bertahap melalui praktik tata kelola sehari-hari. Kepemimpinan perempuan berperan membuka ruang negosiasi terhadap norma gender, sedangkan pelembagaan tata kelola yang partisipatif, transparan, dan adaptif menjadi landasan bagi keberlanjutan perubahan tersebut.

This study aims to analyze how women's leadership opens a space for negotiating gender norms and to identify the challenges and opportunities for sustaining this negotiation within the practice of Community-Based Tourism (CBT) in Pentingsari Tourism Village, Yogyakarta. A qualitative approach employing a single-case study design was adopted. Data collected through in-depth interviews, observations, and document analysis were analysed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña.

The findings reveal that women's leadership opens a space for negotiating gender norms through three governance practices: more participatory decision-making, enhanced transparency and accountability that strengthen performance-based leadership legitimacy, and greater flexibility in operational role allocation based on individual abilities rather than gender identity. Nevertheless, the expansion of women's roles in the public sphere has not been fully accompanied by changes in the gendered division of domestic labour.

The sustainability of this negotiation faces several challenges, including weak organisational regeneration, conflicts over benefit distribution, the risk of strategic drift, and women's double burden. Conversely, democratic legitimacy, social capital, community adaptive capacity, and support from external networks provide opportunities to strengthen more inclusive governance. This study concludes that changes in gender norms within Community-Based Tourism occur gradually through everyday governance practices. Women's leadership plays a pivotal role in opening a space for negotiating gender norms, while the institutionalisation of participatory, transparent, and adaptive governance provides the foundation for sustaining these changes.


Kata Kunci : community-based tourism, kepemimpinan perempuan, norma gender, tata kelola

  1. S2-2026-537030-abstract.pdf  
  2. S2-2026-537030-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-537030-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-537030-title.pdf