Dampak Perubahan Tradisi Belis Pada Era Modern Terhadap Ketahanan Sosial Budaya (Studi Etnografis Di Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur)
JULIAN UMBU BAYU, Dr. Rr. Paramitha Dyah Fitriasari, S.Ant., M.Hum.; Dr. Ahmad Zubaidi, M.Si.
2026 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional
Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis perubahan tradisi belis pada
era modern serta dampaknya terhadap ketahanan sosial budaya masyarakat di
Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data penelitian
dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 16 informan yang terdiri atas
tokoh adat, tokoh, tokoh masyarakat pemuda, dan kepala rumah tangga. Informan
dipilih secara purposive berdasarkan relevansi pengalaman dan pengetahuan
mereka terhadap praktik belis, kemudian dikembangkan melalui teknik snowball
sampling . Selain wawancara, peneliti melakukan observasi partisipatif dan
dokumentasi untuk melengkapi dan memperkuat informasi yang diperoleh melalui
wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori modal dan
reproduksi sosial dari Pierre Bourdieu dan teori konstruksi realitas sosial
dari Berger dan Luckmann sebagai pisau analisis dan ditambah beberapa indikator
ketahanan sosial budaya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi telah mendorong transformasi tradisi belis melalui kemunculan fenomena njara ti kawinga (kuda dalam amplop), penempatan njara kaleti dengan kendaraan bermotor, perubahan komposisi hewan adat, berkembangnya budaya konsumtif pada prosesi dan dandana nulla, luluna tappi , serta mekanisme pembayaran belis yang semakin fleksibel. Meskipun terjadi perubahan bentuk dan mekanisme, nilai-nilai fundamental belis sebagai penghormatan terhadap perempuan, ikatan hubungan kekerabatan, legitimasi perkawinan adat, penghormatan terhadap leluhur, dan identitas budaya tetap terpelihara. Perubahan tersebut memberikan dampak ganda terhadap ketahanan sosial budaya. Di satu sisi, perubahan meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat sehingga tradisi tetap lestari di tengah perubahan sosial dan ekonomi. Di sisi lain, perkembangan monetisasi, orientasi konsumtif, dan komodifikasi simbol adat berpotensi menimbulkan tekanan ekonomi, persepsi sosial, serta mengurangi kedalaman makna filosofis belis. Dengan demikian, ketahanan sosial budaya masyarakat Mamboro ditentukan oleh kemampuan dalam menjaga keseimbangan antara adaptasi terhadap modernisasi dan pelestarian nilai-nilai inti tradisi belis.
This
study aims to analyze changes in the belis (customary bride price) tradition in
the modern era and their impact on the socio-cultural resilience of the
community in Mamboro District, Central Sumba Regency, East Nusa Tenggara
Province.
The
study employs a qualitative approach using an ethnographic method. Data were
collected through in-depth interviews with 16 informants, comprising customary
leaders, community figures, youth representatives, and heads of households.
Informants were selected purposively based on the relevance of their experience
and knowledge regarding belis practices, with the sample subsequently expanded
using the snowball sampling technique. In addition to interviews, the
researcher conducted participant observation and document analysis to
complement and reinforce the information obtained. Data analysis involved data
reduction, data presentation, and conclusion drawing, utilizing Pierre
Bourdieu’s theories of capital and social reproduction and Berger and
Luckmann’s theory of the social construction of reality as analytical
frameworks, supplemented by indicators of socio-cultural resilience.
The results indicate that modernization has driven a transformation in the belis tradition, evidenced by the emergence of the njara ti kawinga (horse in an envelope) phenomenon, the substitution of njara kaleti (customary horses) with motor vehicles, changes in the composition of customary livestock, the rise of consumerist culture in processions and dandana nulla and luluna tappi rituals, and increasingly flexible payment mechanisms. Despite changes in form and mechanism, the fundamental values of belis —such as respect for women, kinship ties, the legitimation of customary marriage, reverence for ancestors, and cultural identity—have been preserved. These changes have a dual impact on socio-cultural resilience. On one hand, the changes enhance the community's adaptability, ensuring the tradition endures amidst social and economic shifts. On the other hand, the growth of monetization, consumerist orientations, and the commodification of customary symbols poses risks of economic pressure and negative social perceptions, while potentially diminishing the depth of the philosophical meaning of belis. Thus, the socio-cultural resilience of the Mamboro community is determined by its ability to maintain a balance between adapting to modernization and preserving the core values of the belis tradition.
Kata Kunci : Ketahanan Sosial Budaya, Tradisi Belis, Era Modern.