Evaluasi Keberlanjutan Desa Wisata Penitngsari melalui Kerangka Doughnut Economy: Pemetaan Ruang Aman dan Adil
Olivia Azarine Purinka, Prof. Dr. Sudarmadji, M.Eng.Sc. ; Dr. Ir. Muhamad, ST, M.T., IPU, ASEAN Eng.
2026 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Desa
Wisata Pentingsari telah dikenal luas sebagai model community-based tourism
(CBT) yang berhasil bertahan lebih dari 18 tahun, bahkan melewati guncangan
besar seperti erupsi Merapi 2010 dan pandemi COVID-19. Namun, capaian tersebut
jarang dievaluasi secara integratif antara dimensi sosial dan ekologis
sekaligus. Kesenjangan evaluasi ini menuntut kerangka yang tidak memperlakukan
ekonomi pariwisata sebagai ukuran keberhasilan yang berdiri sendiri, melainkan
sebagai sistem yang beroperasi di antara pemenuhan kebutuhan sosial dan
penjagaan batas ekologis. Kerangka Doughnut Economy menjawab kebutuhan ini
karena secara eksplisit memposisikan ekonomi sebagai mekanisme yang tertanam di
dalam masyarakat dan lingkungan hidup, bukan sebagai dimensi ketiga yang
berdiri sejaja. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberlanjutan Desa Wisata
Pentingsari menggunakan kerangka Doughnut Economy yang diintegrasikan
dengan indikator dari United Nations World Tourism Organization, badan
khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pariwisata yang disingkat UNWTO, guna
memetakan posisi desa dalam ruang aman dan adil (safe and just space).
Penelitian
ini menggunakan desain embedded mixed methods case study, dengan data
kualitatif dari wawancara dan observasi terhadap enam kategori informan sebagai
kerangka analisis utama, sementara data kuantitatif deskriptif berupa
perhitungan mean dari kuesioner terhadap 78 responden pada sembilan indikator
berfungsi sebagai elemen suportif untuk memetakan posisi setiap indikator dalam
ruang aman dan adil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fondasi sosial Pentingsari secara umum berada di atas ambang minimum, ditopang oleh akses air bersih, keadilan sosial, dan partisipasi masyarakat yang berjalan baik, meskipun pendapatan pengelola inti masih rendah dan kesetaraan gender di level operasional belum merata. Dari sisi batas ekologis, penggunaan lahan dan konsumsi air masih terkendali, sedangkan pengelolaan sampah menjadi tantangan utama akibat keterbatasan sumber daya manusia dan meningkatnya volume sampah saat kunjungan tinggi. Temuan penting lainnya adalah adanya relasi non-linear antara fondasi sosial dan batas ekologis: keduanya saling terhubung melalui tenaga kerja yang sama, sehingga peningkatan kunjungan wisata memperbaiki pendapatan masyarakat namun menekan kapasitas pengelolaan lingkungan, dan sebaliknya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ruang aman dan adil bagi keberlanjutan pariwisata Pentingsari bukan kondisi statis, melainkan keseimbangan dinamis yang membutuhkan pengelolaan aktif dan berkelanjutan.
Pentingsari
Tourism Village has been widely recognized as a successful model of
community-based tourism (CBT) that has endured for more than 18 years, even
surviving major shocks such as the 2010 Merapi eruption and the COVID-19
pandemic. However, these achievements have rarely been evaluated in an
integrative manner that simultaneously considers both social and ecological
dimensions. This evaluation gap demands a framework that does not treat tourism
economics as a standalone measure of success, but rather as a system that
operates between meeting social needs and respecting ecological boundaries. The
Doughnut Economy framework addresses this need because it explicitly positions
the economy as a mechanism embedded within society and the environment, rather
than as a third dimension standing on equal footing. This study aims to
evaluate the sustainability of Pentingsari Tourism Village using the Doughnut
Economy framework, integrated with indicators from the United Nations World
Tourism Organization (UNWTO), in order to map the village's position within the
safe and just space.
This
research employs an embedded mixed methods case study design, with qualitative
data from interviews and observations of six categories of informants serving
as the primary analytical framework, while descriptive quantitative data in the
form of mean calculations from questionnaires administered to 78 respondents
across nine indicators function as supportive elements to map the position of
each indicator within the safe and just space.
The findings indicate that Pentingsari's social foundation is generally above the minimum threshold, supported by adequate access to clean water, social justice, and well-functioning community participation, although the income of core managers remains low and gender equality at the operational level has not been evenly achieved. Regarding ecological boundaries, land use and water consumption remain under control, while waste management emerges as a major challenge due to limited human resources and increasing waste volumes during periods of high visitor arrivals. Another important finding is the non-linear relationship between the social foundation and ecological boundaries: the two are interconnected through the same labor force, such that an increase in tourist visits improves community income but pressures environmental management capacity, and vice versa. This study concludes that the safe and just space for tourism sustainability in Pentingsari is not a static condition, but rather a dynamic balance that requires active and ongoing management.
Kata Kunci : Doughnut Economy, Pariwisata berbasis komunitas, Ruang aman dan adil, Keberlanjutan, Desa Wisata Pentingsari