Laporkan Masalah

Analisis Tingkat Risiko Kekeringan di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang

Reyna Normalita, Dr. Erlis Saputra, S.Si., M.Si.

2026 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Kekeringan merupakan bencana yang menyebabkan krisis air bagi masyarakat di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Sebagai kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP), wilayah ini menghadapi tekanan masif alih fungsi lahan dan lonjakan permintaan kebutuhan air bersih. Tidak terpenuhinya kebutuhan air ini berpotensi mengancam keberlanjutan ekosistem, ketahanan pangan, serta stabilitas kehidupan masyarakat lokal jangka panjang. Tujuan dari penelitian ini diantaranya (1) Menganalisis interaksi faktor bahaya, kerentanan, dan kapasitas wilayah dalam membentuk risiko kekeringan di Kecamatan Borobudur; (2) Menganalisis tingkat risiko dan sebaran wilayah berisiko kekeringan di Kecamatan Borobudur; dan (3) Merumuskan strategi dan rekomendasi kebijakan tata kelola risiko kekeringan yang tepat. Analisis risiko kekeringan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods melalui analisis deskriptif kuantitatif berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk skoring risiko bencana, serta analisis deskriptif kualitatif dengan wawancara mendalam. Data primer bersumber dari wawancara mendalam dengan pemerintah desa dan pemerintah kabupaten. Hasil penelitian menunjukkan penentuan risiko kekeringan dipengaruhi oleh indikator Kapasitas (Capacity) sebesar (65%), Kerentanan (Vulnerability) (21,2%), dan Bahaya (Hazard) (13,8%). Variabel Kapasitas (Capacity) berupa keberadaan layanan Pamsimas/PDAM dinilai menjadi faktor pengurang risiko kekeringan paling krusial. Wilayah dengan risiko kekeringan tinggi terdiri dari empat desa yaitu Desa Giripurno, Giritengah, Kenalan, dan Sambeng; tingkat risiko sedang sebanyak enam desa; dan tingkat risiko rendah sebanyak sepuluh desa. Desa-desa dengan tingkat risiko tinggi berasosiasi dengan topografi yang curam di lereng Perbukitan Menoreh. Analisis SWOT menunjukkan rekomendasi kebijakan harus berfokus pada penguatan kapasitas melalui optimalisasi infrastruktur irigasi dan sumber daya air secara berkelanjutan serta penguatan kolaborasi multipihak dalam penanganan risiko bencana.

Drought is a disaster that causes water crisis for the community in Borobudur District, Magelang Regency. As a Super Priority Tourism Destination (SPTD), this region faces massive pressure from land-use conversion and a surge in clean water demand. Failure to meet these water needs poses a significant threat to ecosystem sustainability, food security, and the long-term stability of the local community. The objectives of this study are (1) analyzing the interaction of hazard, vulnerability, and regional capacity factors in shaping drought risk in Borobudur District; (2) analyzing the risk levels and spatial distribution of drought-prone areas in Borobudur District; and (3) formulating strategies and policy recommendations for effective drought risk management. The drought risk analysis integrates Hazard, Vulnerability, and Capacity components. This study employs a mixed-methods approach, utilizing quantitative descriptive analysis based on the Analytical Hierarchy Process (AHP) for disaster risk scoring, alongside qualitative descriptive analysis through in-depth interviews. Primary data were obtained through in-depth interviews with village and regency government officials. The results indicate that drought risk determination is influenced by the indicators of Capacity (65%), Vulnerability (21.2%), and Hazard (13.8%). The Capacity variable, particularly the availability of Pamsimas/PDAM services, is identified as the most crucial factor in reducing drought risk. Areas with high drought risk consist of four villages: Giripurno, Giritengah, Kenalan, and Sambeng; six villages are at a moderate risk level; and ten villages are at a low risk level. The villages with high risk levels are associated with the steep topography of the Menoreh Hills slopes. SWOT analysis suggests that policy recommendations should focus on Capacity building through the sustainable optimization of irrigation infrastructure and water resources, as well as strengthening multi-stakeholder collaboration in disaster risk management.

Kata Kunci : Kekeringan, Risiko Bencana, Analytical Hierarchy Process (AHP), Kerentanan, Kapasitas, Kecamatan Borobudur

  1. S1-2026-477397-abstract.pdf  
  2. S1-2026-477397-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-477397-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-477397-title.pdf