Dari Ruang Hidup ke Ruang Representasi Rancangan Pengelolaan Soo Langke dan Pewarisan Budaya
Septi Dhanik Prastiwi, Popi Irawan, S.S., M.Sc., Ph.D
2026 | Tesis | S2 Antropologi
Rehabilitasi soo langke Ilutang di Desa Urang Unsa, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu menunjukkan bahwa pelestarian cagar budaya dilakukan dengan pendekatan konservasi konvensional yang bersifat topdown, berorientasi pada aspek fisik teknis. Padahal soo langke Ilutang yang merupakan bangunan cagar budaya bukan sekedar bangunan fisik, melainkan sebagai ruang hidup masyarakatnya. Anggaran besar yang telah dikeluarkan untuk rehabilitasi seharusnya diikuti dengan pengelolaan yang mendatangkan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di tengah kecenderungan warga yang tidak lagi menjadikan soo langke sebagai tempat tinggal utama. Untuk itu diperlukan rancangan pengelolaan yang memandang rumah panjang sebagai ruang sosial dan living heritage, melalui kegiatan pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek kegiatan. Hal tersebut sekaligus sebagai upaya mengisi celah pelestarian budaya yang selama ini menggunakan pendekatan konvensional. Kegiatan pemberdayaan yang dilakukan melalui diskusi terpumpun, wawancara mendalam, dan observasi berhasil mengungkap berbagai permasalahan pascarehabilitasi dan konflik pengelolaan soo langke Ilutang. Temuan dalam kegiatan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan soo langke tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan fisik, melainkan harus melibatkan masyarakat sebagai pemilik cagar budaya. Selanjutnya proses refleksi bersama warga menghasilkan luaran konkret bagi pengelolaan soo langke di masa depan. Partisipasi warga menunjukkan kemampuan mereka dalam mengenali potensi sumber daya sekaligus memperlihatkan kemampuan merumuskan pengetahuan dan pengalaman pengelolaan soo langke di masa depan dengan tetap mengacu pada adat yang berlaku. Selain itu kegiatan transmisi budaya melalui Belajar Bersama Tetua menunjukkan generasi muda dapat dilibatkan secara aktif. Kegiatan ini tidak tidak hanya meningkatkan pengetahuan generasi muda terhadap sejarah soo langke dan budaya Dayak Taman, melainkan juga menghasilkan narasi pengetahuan dalam bentuk infografis yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan soo langke.
The rehabilitation of the soo langke Ilutang in Desa Urang Unsa, Kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, demonstrates that the preservation of cultural heritage sites is carried out using a conventional, top down conservation approach focused on physical and technical aspects. However, the soo langke Ilutang a cultural heritage site is not merely a physical structure but serves as a living space for the community. The substantial budget allocated for the rehabilitation should be followed by management practices that bring tangible benefits to the community, especially given the trend among residents to no longer use the soo langke as their primary residence. Therefore, a management plan is needed that views the longhouse as a social space and living heritage through empowerment activities that place the community at the center of these efforts. This also serves to address gaps in cultural preservation that have long relied on conventional approaches. Empowerment activities conducted through discussions, indepth interviews, and observations successfully uncovered various post rehabilitation issues and conflicts regarding the management of the soo langke Ilutang. The findings from these activities demonstrate that the management of the soo langke cannot be carried out solely through a physical approach but must involve the community as the stewards of this cultural heritage site. Furthermore, the reflection process with community members led to concrete outcomes for the future management of soo langke. Community participation demonstrated their ability to identify resource potential while also showcasing their capacity to articulate knowledge and experience regarding the future management of Soo langke, all while adhering to prevailing customary practices. Additionally, cultural transmission activities through Learning with Elders showed that the younger generation can be actively engaged. This activity not only enhanced the younger generations knowledge of the history of the soo langke and the Dayak Taman culture but also produced a narrative of knowledge in the form of infographics that can be utilized in the management of the soo langke.
Kata Kunci : soo langke, Dayak Taman, living heritage, pemberdayaan