PENGALAMAN DOKTER PADA SAAT MENYAMPAIKAN DIAGNOSIS SKIZOFRENIA PADA ANGGOTA KELUARGA DI RS KHUSUS JIWA DHARMAWANGSA: STUDI FENOMENOLOGI TENTANG TRUTH TELLING
Enrico Adhitya Rinaldi, Prof. Dra.Yayi Suryo Prabandari, M.si., PhD.; Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A.
2026 | Tesis | MAGISTER BIOETIKA
INTISARI
Latar belakang: Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa berat yang memberi dampak psikologis, sosial, dan ekonomi yang luas bagi pasien dan keluarga. Stigma, beban caregiving, serta posisi keluarga sebagai pengambil keputusan menjadikan penyampaian diagnosis skizofrenia sebagai momen yang sarat dilema etik. Dokter perlu menyeimbangkan kewajiban untuk jujur, perlindungan dari dampak psikologis, kerahasiaan pasien, dan norma budaya yang familistik. Namun, pengalaman dan pertimbangan etik dokter ketika menyampaikan diagnosis skizofrenia dalam konteks layanan kejiwaan di Indonesia masih terbatas dieksplorasi. Tujuan: Mengeksplorasi pertimbangan etik dokter dalam praktik penyampaian diagnosis skizofrenia kepada keluarga pasien di Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharmawangsa Jakarta. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan terdiri dari delapan dokter dengan variasi pengalaman klinis yang terlibat dalam penegakan dan penyampaian skizofrenia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur yang direkam dan ditranskrip secara verbatim. Triangulasi perspektif dilakukan melalui wawancara dengan tiga anggota keluarga pasien. Analisis data dilakukan dengan thematic analysis menurut Braun dan Clarke, melalui tahap familiarisasi data, koding awal, pengelompokan kode menjadi kategori, pembentukan dan penajaman tema, serta pendefinisian tema akhir. Hasil: Penelitian ini menghasilkan tema-tema yang menggambarkan cara dokter menimbang kejujuran dan harapan keluarga, mengelola stigma dan dinamika relasi keluarga, memaknai prinsip bioetika dalam praktik klinis, serta strategi komunikasi yang digunakan saat menyampaikan diagnosis. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan pedoman komunikasi dan pelatihan truth telling yang peka budaya di rumah sakit jiwa serta berkontribusi pada penguatan kajian bioetika klinis psikiatri di Indonesia. Kesimpulan: Penyampaian diagnosis skizofrenia adalah negosiasi etik-relasional yang memerlukan keseimbangan antara kejujuran dan empati sesuai konteks keluarga. Keberhasilannya bergantung pada kompetensi komunikasi klinis, dukungan psikoedukasi berkelanjutan, serta standardisasi sistem layanan kesehatan jiwa yang suportif. Rekomendasi: Rumah sakit perlu mengembangkan SOP penyampaian diagnosis yang peka budaya dan berbasis bioetika, didukung oleh sistem kolaborasi interprofesional serta psikoedukasi terstruktur. Tenaga kesehatan memerlukan pelatihan komunikasi etik berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan disclosure yang empatik dan nonstigmatis. Peningkatan literasi kesehatan mental bagi masyarakat krusial untuk mereduksi stigma sosial. Peneliti selanjutnya dapat memperluas konteks penelitian ke layanan primer atau mengembangkan modul intervensi truth-telling yang teruji secara klinis di Indonesia.
ABSTRACT
Background: Schizophrenia is a severe mental disorder that has far-reaching psychological, social, and economic impacts on patients and their families. Stigma, the burden of caregiving, and the family’s role as decision-makers make the delivery of a schizophrenia diagnosis a moment fraught with ethical dilemmas. Physicians must balance the duty to be honest, protection from psychological impact, patient confidentiality, and family-oriented cultural norms. However, physicians’ experiences and ethical considerations when communicating a schizophrenia diagnosis within the context of mental health services in Indonesia have been limitedly explored. Objective: To explore physicians’ ethical considerations in the practice of communicating a schizophrenia diagnosis to patients’ families at Dharmawangsa Psychiatric Hospital in Jakarta. Methods: This study employed a qualitative design with a phenomenological approach. Participants consisted of eight physicians with varying clinical experience involved in the diagnosis and communication of schizophrenia. Data were collected through semi-structured in-depth interviews that were recorded and transcribed verbatim. Perspective triangulation was conducted through interviews with three family members of patients. Data analysis was conducted using thematic analysis according to Braun and Clarke, through the stages of data familiarization, initial coding, grouping codes into categories, forming and refining themes, and defining final themes. Results: This study identified themes that describe how doctors balance honesty and family expectations, manage stigma and family dynamics, interpret bioethical principles in clinical practice, and employ communication strategies when conveying a diagnosis. These findings can serve as a foundation for developing culturally sensitive communication guidelines and truth-telling training in psychiatric hospitals and contribute to strengthening clinical bioethics research in psychiatry in Indonesia. Conclusion: Communicating a schizophrenia diagnosis is an ethical-relational negotiation that requires a balance between honesty and empathy appropriate to the family’s context. Its success depends on clinical communication competencies, ongoing psychoeducational support, and the standardization of a supportive mental health care system. Recommendations: Hospitals need to develop culturally sensitive and bioethics-based standard operating procedures (SOPs) for diagnosis disclosure, supported by interprofessional collaboration systems and structured psychoeducation. Healthcare providers require ongoing ethical communication training to enhance their skills in empathetic and non-stigmatizing disclosure. Improving mental health literacy among the public is crucial for reducing social stigma. Future researchers may expand the research context to primary care settings or develop clinically validated truth-telling intervention modules in Indonesia.
Kata Kunci : Kata kunci: bioetika, diagnosis, dokter, skizofrenia, truth-telling.