Laporkan Masalah

ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI PADI DI KABUPATEN SLEMAN

Hanna Syahrina Arumndalu, Prof. Dr. Jangkung Handoyo Mulyo, M.Ec.

2026 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis laju dan tren alih fungsi lahan sawah menjadi non-sawah di Kabupaten Sleman selama periode 1991–2023, (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi alih fungsi lahan sawah di Kabupaten Sleman, dan (3) menganalisis dampak alih fungsi lahan sawah terhadap nilai produksi padi yang hilang di Kabupaten Sleman. Penelitian ini menggunakan data sekunder runtut waktu (time series) selama periode 1991–2023 yang diperoleh dari berbagai instansi terkait, yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta (Bapperida DIY), serta sumber pendukung lainnya. Analisis data dilakukan menggunakan analisis deskriptif dan analisis tren untuk mencapai tujuan pertama, sedangkan untuk tujuan kedua dan ketiga digunakan metode Ordinary Least Squares (OLS) dengan model semi-log. Selain itu, dilakukan analisis produksi padi yang hilang , produksi beras yang hilang , kerugian ekonomi, dan estimasi pemenuhan kebutuhan konsumsi beras penduduk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas lahan sawah di Kabupaten Sleman mengalami penurunan secara kontinu dengan rata-rata laju sebesar -1,47% per tahun, dengan total alih fungsi lahan sawah mencapai 9.937 ha selama periode 1991–2023. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa jumlah industri dan hotel berpengaruh signifikan positif terhadap alih fungsi lahan sawah, sedangkan PBB-P2 berpengaruh signifikan negatif, sementara PDRB sektor pertanian per kapita, laju pertumbuhan penduduk, produktivitas padi, dan kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tidak berpengaruh signifikan. Alih fungsi lahan sawah menyebabkan hilangnya produksi padi sebesar 55.929 ton atau rata-rata 1.695 ton/tahun, dengan total kerugian ekonomi mencapai Rp215,69 miliar atau rata-rata Rp6,54 miliar/tahun. Kehilangan produksi tersebut juga mengakibatkan hilangnya produksi beras sebesar 35.805.777,44 kg, yang setara dengan hilangnya kemampuan pemenuhan konsumsi beras bagi sekitar 570.610 jiwa atau rata-rata 17.291 jiwa/tahun, serta 208.269.994 jiwa/hari atau rata-rata 6.311.212 jiwa/hari/tahun. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa laju alih fungsi lahan sawah berpengaruh signifikan negatif terhadap nilai produksi padi yang hilang, sedangkan Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Sleman berpengaruh signifikan positif dan kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) berpengaruh signifikan negatif terhadap nilai produksi padi yang hilang di Kabupaten Sleman.

This study aimed to (1) analyze the rate and trend of paddy field conversion to non-agricultural land in Sleman Regency during the period 1991–2023, (2) identify the factors affecting paddy field conversion in Sleman Regency, and (3) analyze the impact of paddy field conversion on the value of lost rice production in Sleman Regency. This study employed secondary time-series data covering the period from 1991 to 2023, obtained from various institutions, including the Central Bureau of Statistics (BPS), the Agriculture, Food, and Fisheries Service of Sleman Regency, the Regional Development Planning Agency of the Special Region of Yogyakarta (Bapperida DIY), and other supporting sources. Descriptive and trend analyses were used to achieve the first objective, while the second and third objectives were analyzed using the Ordinary Least Squares (OLS) method with a semi-log model. In addition, analyses of paddy production loss, rice production loss, economic losses, and estimates of the population whose rice consumption needs could have been met were conducted.

The results showed that paddy field area in Sleman Regency continuously declined during the study period, with an average annual rate of -1.47%, resulting in a total conversion of 9,937 hectares. Regression analysis revealed that the number of industries and hotels had a significant positive effect on paddy field conversion, whereas Land and Building Tax (PBB-P2) had a significant negative effect. Meanwhile, agricultural Gross Regional Domestic Product (GRDP) per capita, population growth rate, rice productivity, and the Spatial Planning Policy (RTRW) did not significantly affect paddy field conversion in Sleman Regency. Paddy field conversion caused a loss of 55,929 tons of paddy production, with an average annual loss of 1,695 tons, resulting in a total economic loss of IDR 215.69 billion, or an average annual loss of IDR 6.54 billion. Furthermore, the loss of paddy production resulted in a loss of 35,805,777.44 kg of rice, averaging 1,085,023.56 kg/year, equivalent to the loss of the capacity to meet the annual rice consumption needs of approximately 570,610 people during the study period, or an average of 17,291 people per year, and equivalent to 208,269,994 person/days, or an average of 6,311,212 person/days/year. Further analysis indicated that the rate of paddy field decline had a significant negative effect on the value of lost paddy production, whereas the Regional Minimum Wage (UMR) had a significant positive effect and the Sustainable Agricultural Land Protection (PLP2B) policy had a significant negative effect on the value of lost paddy production in Sleman Regency.

Kata Kunci : alih fungsi lahan sawah, laju alih fungsi lahan sawah, nilai produksi padi yang hilang, kerugian ekonomi, kebijakan PLP2B, Kabupaten Sleman.

  1. S2-2026-529683-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529683-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529683-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529683-title.pdf